Hati hati dengan yang fleksibel

Sebagai generasi yang sejak kecil dituntut untuk cepat, bebas, dan inovatif, membuat kita bertumbuh menjadi orang bermental fleksibel.

Ya, siapa disini yang tak suka kebebasan? Kebanyakan dari diri pasti mendambakan yang namanya fleksibilitas terhadap sesuatu.

Coba kita melakukan survey kecil-kecilan pada mereka yang masih duduk di bangku akademik. Tanyakan bahwa hidup seperti apa yang kau inginkan? Pekerjaan seperti apa yang kau dambakan? Berikan mereka pilihan. Ingin kerja dengan aturan ketat, atau ingin kerja dengan waktu yang fleksibel? Tentu kebanyakan ingin memilih bekerja dengan waktu yang fleksibel.

Hal ini dibuktikan pula dengan semakin banyaknya generasi muda yang lebih memilih untuk membuka wirausaha sendiri. Karena berpikir dengan berwirausaha, kita sendirilah yang bebas menentukan kapan waktu kita untuk bekerja, dan kapan waktu kita untuk liburan.

Menyenangkan bukan? Tentu.

Namun, ada hal yang harus diperhatikan. Yakni, berhati-hatilah dengan sifat fleksibel.

Memiliki kegiatan yang fleksibel tentulah sangat menyenangkan. Namun, juga berpotensi berbahaya bagi mereka yang kurang bisa mendisiplinkan diri mereka.

Saya pernah terjebak dalam fleksibilitas ini. Pernah suatu waktu produktivitas saya menurun karena ini. Pada awal saya mulai menulis, mindset saya tertanam bahwa menjadi penulis itu tidak perlu menetapkan deadline kapan waktu tulisannya selesai, kapan waktu terbitnya ditentukan. Yang saya lakukan hanyalah menulis saat ada mood saja.

Alhasil, karena saya meyakini bahwa menulis itu fleksibel, terserah saya mau rampung kapan. Maka hasilnya berbulan-bulan saya tidak menyelesaikan naskah tulisan saya. Menulis paling hanya beberapa kali seminggu. Pun ketika naskah saya rampung. Saya harus melakukan self editing lagi. Dan karena saya tidak menetapkan waktu kapan untuk menyelesaikan, bertambah molor lagi editing saya. Padahal jika saya menetapkan tenggat deadline saya sendiri. Bisa saja dalam waktu berbulan-bulan itu saya sudah menelurkan karya yang banyak.

Ya. Hati-hati dengan mental fleksibel. Fleksibel memanglah asyik, namun diperlukan kedisiplinan yang tinggi agar dapat sukses.

Bagi generasi muda yang terbiasa dan candu dengan sifat fleksibel. Ada baiknya periksa dulu diri kita. Apakah kita sudah mampu mendisiplinkan diri sendiri?

Cara mudah untuk fleksibel namun tetap mencapai target adalah memberi tenggat waktu atau deadline pada diri sendiri.

“Lho, kalau begitu bukan fleksibel agi dong namanya?” Celutukmu.

Masih fleksibel, namun kita sendirilah yang menentukan kapan fleksibel itu berakhir. Itulah fleksibel yang baik. Kalo mau fleksibel terus. Kapan selesainya?

Berikanlah waktu tenggat atas kerjaanmu. Dan disiplinkan diri atas waktu yang sudah kau tentukan.

WRITTEN BYDzul Fiqram Nur

Penulis buku “Petuah Menjadi Manusia” II Menteri Literasi Kajian dan Aksi Strategis BEM KEMA TEL-U II Master of Training HMI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top