Jadilah Bermanfaat

Sebuah postingan saya temukan di media sosial milik seorang penulis best seller bernama Ahmad Rifa’i Rif’an. beliau menuliskan,

“orang-orang aslinya tidak peduli sehebat apapun kita, secerdas apapun kita, sebanyak apapun prestasi kita, setinggi apapun jabatan kita, sekeren apapun karir kita, sesukses apapun bisnis kita, sebanyak apapun harta kita. Yang orang pedulikan adalah seberapa bermanfaat kita bagi mereka. Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”

ketika direnungkan, benar. bahwa kita mungkin terlalu sering dan terlalu sibuk membrandingkan diri kita, mengupgrade diri kita untuk terus selangkah lebih maju dari yang lain. Namun, tak jarang juga dalam mengupgrade diri tersebut, kita memiliki niat yang salah. yaitu ingin memperlihatkan kepada orang-orang bahwa sudah sejauh mana hidup kita dibandingkan mereka.

Kawan, mari kita periksa diri sendiri. Apa pencapaian kita dalam hidup? dan bagaimana kita menyikapi pencapaian tersebut? apa niat sebenarnya kita berjuang susah-susah dalam mewujudkan pencapaian kita? Tak jarang, banyak dari kita yang bela-belain berjuang sekeras mungkin untuk mencapai sesuatu. Namun, niat kita adalah agar kelak, ketika kita berhasil, ada yang bisa dipamerkan didepan teman-teman kita. Agar kelak, mereka yang dari dulu mengejek kita, bisa kita buktikan dengan prestasi yang melimpah. dan kita akan menertawakan mereka. 

Astaghfirullah, jangan sampai kita punya niat demikian kawan.

Dalam sebuah postingan lain, Ahmad Rifa’i juga berkata, “Jangan terlalu banyak menceritakan hidupmu pada orang lain. Jika itu hal hebat, akan menimbulkan rasa iri. dan jika itu hal buruk, bisa membongkar aib. Jika niat memotivasi, secukupnya saja”

Senada dengan dua quotes diatas, saya tetiba teringat dengan perkataan Ali bin Abi Thalib, “Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu”

Kawan, mari luruskan kembali niat kita untuk menjadi orang sukses yang penuh kebermanfaatan. Sebab, sekedar sukses saja, rasanya tidak bisa membawa batin kita merasakan bahagia. Materi itu kosong nilainya jika yang menikmati adalah diri kita sendiri. Yang menjadi modal kita untuk merasa bahagia, adalah ketika orang lain bisa merasa bahagia karena kita ada untuknya. Percayalah.

Luruskan niat untuk menjadi orang sukses di dunia dan di akhirat. jangan sampai sekecil pun terbesit dalam diri kita untuk memamerkan pencapaian yang kita punya. karena riya, bisa menghilangkan pahala yang kita perbuat. Bukankah percuma kita susah-susah berjuang mewujudkan impian jika tak ada nilainya di sisi Allah? Jangan sampai kita dapat capeknya doang, lantas nanti ketika ditanya diakhirat, kita protes, “Kemana pahala yang dijanjikan untuk saya dahulu” dan Tuhan pun menjawab, “Semuanya sirna karena sifat riyamu”.

Percayalah. sesuatu yang kamu tampilkan, yang kamu bangga-bangga kan di sosial mediamu itu, tidak ada sama sekali yang peduli. mungkin mereka cuma memberimu “Selamat” saja. habis itu tidak ada lagi. 

Jika menurutmu itu adalah sebuah personal brandingmu. bukankah kualitas itu dibuktikan dengan tindakan nyata saja? bukankah kualitas itu diketahui benarnya jika telah dibuktikan dengan bukti kelakuan? kalau hanya tebar pesona di media sosial, itu bukan branding namanya. Percayalah. Rejeki itu sudah ada yang ngatur. Jika kamu memang layak untuk mendapatkan karir, maka ia akan datang menghampirimu.

Jadilah orang yang bermanfaat kawan. sebab, seberapa tinggi derajat yang kau perlihatkan, tidak akan ada peduli, yang orang lain butuhkan adalah sisi kebermanfaatanmu padanya, bukan sisi pamermu padanya. Jika yang kau lakukan hanya sekedar pamer saja. bisa-bisa mereka malah ilfeel padamu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top