Deadline dalam deadline

Penyakit yang paling menjalar dalam diri anak muda, adalah penyakit menunda. Ya, menunda sudah menjadi kebiasaan yang sulit untuk dihilangkan, karena sudah mendarah daging rasanya.

Terkadang, kita merasa benci pada diri sendiri lantaran belum bisa mengindahkan diri dari kebiasaan menunda tersebut.

Berbicara perihal menunda dan akibat buruknya, tentu kita semua sudah tahu. Banyak menunda bisa berakibat menumpuknya pekerjaan, banyak menunda bisa berakibat banyak pikiran dan berujung pada depresi, gelisah tak karuan, dan banyak lagi. Banyak menunda juga bisa berefek pada karir seseorang, sebut saja kita ada janji untuk berjumpa pada rekan bisnis pukul 8.00 pagi, namun karena menunda keberangkatan sedikit, akhirnya dalam perjalanan mengalami macet, dan berujung pada kekecewaan rekan bisnis.

Ada satu kecenderungan anak muda, agar mau mengerjakan sesuatu dengan segera tanpa menunda. Yaitu dengan menerapkan deadline pada pekerjaan.

Deadline, adalah sesuatu yg bisa memberikan efek tekanan pada manusia, sekaligus juga bisa memberi efek penundaan pada manusia.

Mari kita jelaskan…

Deadline memang bisa memberikan tekanan pada diri kita, agar kiranya kita lekas mengerjakan pekerjaan itu dan menyelesaikannya dengan segera. Dalam situs answer.com, dijelaskan bahwa deadline berarti “boundary line” (garis batas) dipenjara yang hanya dilalui oleh para tahanan dengan risiko ditembak.

Konon, kata deadline ini dulunya dipakai dalam dunia tawanan, yang berarti barang siapa yang melewati deadline (garis batas) maka ia akan kena tembak. Kata deadline awalnya dipopulerkan oleh para wartawan. Lambat laun, kata ini semakin populer dan digunakan dalam segala bidang.

Deadline, seringkali menjadi sebuah tuas dalam manusia agar segera menyelesaikan pekerjaan yang ia punya. Karena kebanyakan bagi mereka yang tidak mengerjakan setelah deadline habis, maka akan diberikan sanksi. Inilah yang mendorong seseorang untuk lekas mengerjakan ketika mendekati deadline. Karena mereka takut dikenai sanksi.

Kita mungkin pernah merasakan demikian. Terkadang jika deadline terasa jauh, maka kita dengan suka-suka mengatakan “Ah, nanti saja. Deadline nya masih jauh” sehingga berefek pada menunda. Padahal, kita terkadang kurang menyadari bahwa pekerjaan kits tidak hanya satu, tidak hanya itu saja. Hingga terjebaklah kita dalam perkara deadline. Yang awalnya berencana menunda karena ingin mengerjakan pas mendekati deadline, tapi nyatanya banyak tugas lagi yang datang dan dengan deadline yang sama. Inilah yang saya maksud deadline dapat membuat kita menunda.

Jadi, deadline dapat membuat kita lekas mengerjakan sesuatu dengan segera, jika deadline itu sudah mendekati waktunya. Namun, deadline juga dapat menjadi jebakan bagi kita, jika deadline yang ditentukan sangat renggang, hingga berpotensi menimbulkan deadline lainnya.

Apa solusinya?

Saya punya seorang teman yang rajinnya amat sangat rajin. Tak pernah dalam kesehariannya mengalami cemas karena bertumpuknya tugas. Ketika saya tanya. Apa rahasianya. Ia menjawab, “saya menentukan deadline kerja saya sendiri”.

Jika ia diberikan tugas deadline seminggu kedepan, ia memberikan deadline pada dirinya satu sampai dua hari saja. Kalau tidak, ia memberikan sanksi sendiri pada dirinya, seperti tidak bermain gadget selama seminggu. Ngeri bukan?

Jika deadline yang mepet dapat membuat kita terpacu dalam mengerjakan tugas, maka tetapkan deadline sendiri yang mepet.

Inilah yang saya katakan deadline dalam deadline. Dan benar. Saya sendiri telah menerapkannya. Awalnya saya merasa cemas tak karuan, setelah kutelusuri sebabnya apa. Ternyata saya kebanyakan memikirkan tugas yang amat banyak lantaran kebiasaan saya untuk menunda.

Setelah saya menerapkan rahasia rajin teman saya. Lambat laun, kebiasaan menunda saya perlahan berkurang. Tugas-tugas pun segera terselesaikan. Teman saya tak jarang terheran melihat kerajinan dadakan saya.

Memang susah pada awalnya. Tapi susah tak berarti mustahil bukan?

Terapkan deadline dalam deadline disetiap pekerjaanmu. Berikan sanski yang berat dan tegas pada dirimu jika melanggarnya. Disiplin. Jika perlu, minta pertolongan temanmu, sahabatmu, atau pacarmu. Suruh mereka yang memberikanmu hukuman.

Berat memang kalau diri sendiri tak disiplin, makanya perlu bantuan orang lain untuk membuat kita terpaksa disiplin.

Selamat mencoba dan terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top