Pengalaman Switch Karier: Dari Manajemen ke Digital Marketing

perjalanan switch karier dari manajemen ke digital marketing

Kamu yang sedang baca ini, apakah mau switch karier juga? Kalau ya, mungkin kamu mau dapat beberapa perspektif, bagaimana sih rasanya pindah karier dan apa saja tipsnya.

Kali ini saya akan bercerita pengalaman real saya untuk memilih pindah karier dan juga saya akan membagikan apa saja yang harus diperhatikan untuk kamu yang memilih switch karier ini.

Mengapa Memilih Switch Karier?

Intro dulu, saya berkuliah di Telkom University jurusan S1 Manajemen Bisnis Telekomunikasi dan Informatika. Lalu, pekerjaan saya saat ini kebanyakan berkecimpung di dunia digital marketing, utamanya Search Engine Marketing dan Performance Ads.

Mungkin ada yang bakalan bilang, “Tapi Manajemen Bisnis ke Digital Marketing tidak beda jauh” jawab singkat saja, “siapa bilang?”.

Saya mengambil jurusan Bisnis Management dengan fokus penjurusan Business Development. Kerjaan saya harusnya mikirin gimana agar product ini bisa lebih bagus. Bukan bagaimana cara agar produk ini lebih laku. Itu dua hal yang berbeda.

Nah, mungkin langsung saja, kita bahas mengapa saya memilih switch karier.

1. Coba Merintis Startup Ngegame

Waktu itu saya masih kuliah semester akhir (sedang menyusun skripsi), saya dan beberapa teman saya mencoba merintis sebuah startup kecil-kecilan bernama Ngegame. Ngegame itu sebuah social gaming tempat di mana orang bisa berjejarik layaknya social media, makanya saya sebutnya social gaming. Di sini saya memegang peran sebagai bagian Lead Business, karena memang background saya adalah Business Development.

Singkat cerita, aplikasinya jadi, dan sudah bisa didownload di Playstore waktu itu. Namun muncul masalah, karnea di dalam tim, kami tidak ada yang paham bagaimana cara marketingin produknya. Ya, percuma juga kan produk jadi tapi tidak ada yang mengerti marketing.

Maka, kebetulan saya suka belajar, saya terpikir untuk kenapa tidak mengambil kursus marketing saja? Maka di situ saya berkata sama teman tim, bahwa saya yang akan mulai belajar bagaimana cara melakukan marketing.

2. Mencari Bootcamp Digital Marketing

Lalu, saya browsing di Internet dan menemukan berbagai pilihan kursus digital marketing, waktu itu yang paling murah adalah Myskill, bootcamp yang seharga Rp500.000 dan tentunya sangat ramah di kantong mahasiswa.

Meskipun harganya terbilang terjangkau, tapi waktu itu saya memang tidak punya uang, nah kebetulan saya punya om yang kondisi keuangannya berada, waktu itu sukarela bayarin saya kursus digital marketing itu. Maka saya terima.

Singkat cerita, berjalan lah bootcamp itu, saya mempelajari banyak hal, mulai dari fundamental marketing, content marketing, copywriting, SEO, meta ads, google ads, dan masih banyak lagi.

Kebetulan, di bootcamp itu juga ada yang namanya final project, di mana kita diberi kesempatan untuk langsung praktik apa yang kami dapatkan teori di kelas, langsung kami praktikkan dengan menghandel UMKM yang nyata.

Lalu, dibagilah kami yang jumlahnya ratusan orang itu menjadi kelompok kecil, dan kebetulan saya terpilih menjadi ketua project.

Di sini saya sangat enjoy dengan bootcampnya, saya sangat tertarik dan menyadari bahwa Digital Marketing itu asyik dan gak semenakutkan yang saya kira. Karena, pikiran saya marketing itu adalah sales.

Saya juga menemukan sebuah irisan antara hobi saya menulis dengan kesempatan menjadi Content Writer/SEO/Copywriter di dunia digital marketing.

Singkat cerita, karena atas kerja keras kelompok saya, tak disangka-sangka, kelompok saya masuk (terpilih) jadi Top 5 Kelompok dengan hasil Final Project Terbaik. Wah! Saya pun tak menyangka.

3. Punya Sertifikasi dan Porftolio, Bekal Terbaik Dapat Pekerjaan Pertama

Akhirnya, karena mengikuti bootcamp dan final project, saya kini memiliki sertifikasi dan juga porftolio kerja real. Inilah yang menjadi bekal saya untuk beralih karier dari sebelumnya background Business Development menjadi Digital Marketing.

Saya kebetulan waktu itu juga sudah lulus, saya kemudian berpikir untuk benar-benar fokus melamar menjadi seorang digital marketer.

Singkat cerita, saya mulai melamar pekerjaan yang ada kaitannya dengan dunia digital marketing. Mulai dari content specialist, content marketer, copywriter, SEO, dan masih banyak lagi.

Saya cukup percaya diri dengan sertifikat dan portfolio yang saya peroleh dari hasil bootcamp, setiap hari saya melamar pekerjaan sampai akhirnya ada yang menerima CV saya untuk menuju ke tahap selanjutnya, yakni wawancara HR.

Saya mendapatkan panggilan wawancara HR sebagai content specialist di salah satu bank digital bernama PT Bank Amar Indonesia Tbk. Sebelum wawancara, saya juga melakukan technical test untuk membuat content plan dan juga 3 artikel.

Untungnya, pikiran saya masih fresh karena baru graduation di bootcamp digital marketing. Saya pun membuka kembali materi tentang Content Marketing.

4. Re-look Kembali Materi Bootcamp

Singkat cerita, sehari sebelum wawancara oleh tim HR, saya mulai menonton kembali rekaman materi bootcamp, utamanya bagian Content Marketing. Saya pahami bagaimana tips-tips membuat content yang menarik, bagaimana cara kerja SEO, bagaimana framework pembuatan konten di digital.

Saya juga latihan wawancara di depan cermin, mengumpulkan berbagai potensi pertanyaan yang akan keluar yang berkaitan dengan dunia perkontenan.

Hingga hari H tiba, saya dengan percara diri siap menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh HR.

Saya tidak menyangka, berbekal mempelajari kembali rekaman video dan juga mengingat kembali materi yang pernah saya pelajari, saya seakan orang yang punya pengalaman di dunia perkontenan.

Hingga akhirnya, saya melanjutkan ke interview user, dan akhirnya dinyatakan lulus sebagai content specialist di Bank Amar.

5. Tetap Menjaga Networking, Hingga Akhirnya Menjadi Mentor di Myskill

Saya merasa bahwa mengikuti bootcamp ini adalah titik awal saya dalam berkarier. Oleh karena itu saya tetap menjaga komunikasi dengan para tim dari Myskill.

Dan amazingnya, selang 3 bulan setelah bootcamp, saya dipercaya untuk menghandel alias menjadi kakak pendamping Final Project peserta bootcamp.

Menurut saya, ini challenges, di mana saya baru banget terjun di dunia marketing, saya malah diamanahi untuk mendampingi kelompok final project batch selanjutnya. Karena ini tawaran yang bagus, saya pun menerima.

Dan, justru, dengan mengambil bagian dari pendamping ini, saya justru banyak belajar di sini. Saya dipaksa untuk mempelajari kembali materi-materi yang ada. Hingga perlahan, saya semakin menguasai.

Saya pun selalu dipanggil untuk menjadi kakak pendamping hingga akhirnya dipercayakan sebagai Mentor Final Project dengan menghandel puluhan batch final project sampai sekarang.

Dan, berkat terus-menerus belajar, saya pun berhasil mendampingi kelompok yang saya handel untuk selalu masuk ke Top 5 Final Project.

Ya, hampir 80% kelompok setiap batch yang saya pegang, berhasil masuk menjadi kelompok terbaik. Amazing.

Tips Switch Karier ke Digital Marketing

Pindah haluan ke dunia digital marketing memang menantang, tapi sangat mungkin dilakukan bahkan jika kamu tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang ini. Berikut adalah langkah-langkah strategis yang bisa kamu ambil:

1. Jangan Cuma Teori, Langsung “Cemplung” ke Kursus & Bootcamp

Oke, jujur aja, belajar otodidak dari YouTube itu bisa banget. Tapi kalau kamu mau switch karier dengan cepat, kamu butuh kurikulum yang terstruktur. Ikutan kursus atau bootcamp itu bukan cuma soal dapet materi, tapi soal dapet framework berpikir. Kamu bakal belajar gimana caranya riset audiens sampai bikin strategi yang masuk akal, bukan cuma asal posting.

2. Sertifikat Itu “SIM” Kamu di Dunia Digital

Mungkin ada yang bilang “sertifikat nggak penting, yang penting skill.” Tapi buat kita yang baru pindah haluan, sertifikat dari Google Ads, HubSpot, atau SEMrush itu ibarat SIM. Itu bukti ke HRD kalau kamu udah punya standar kompetensi dasar yang diakui secara global. Anggap aja ini cara paling cepat buat dapet trust dari calon employer.

3. Portfolio Adalah Koentji (Serious!)

Perekrut nggak akan tanya nilai IPK kamu kalau kamu mau jadi SEO atau Ads Specialist. Mereka bakal tanya: “Pernah dapet hasil apa?”. Kalau belum punya klien, jangan diem aja. Buat project simulasi, bantuin bisnis temen, atau optimasi website sendiri. Tunjukin angka-angkanya—misalnya gimana kamu naikin traffic atau nurunin cost per click. Visualisasikan itu semua di website portofolio kamu.

4. Akrabkan Diri Sama “Dapur” Marketing (Tools)

Digital marketing itu nggak bisa lepas dari data. Kamu harus mulai berani “ngulik” Google Analytics 4 (GA4), Google Search Console, atau Ahrefs. Nggak perlu langsung jadi ahli dalam semalam, tapi minimal kamu tahu cara baca datanya. Dunia ini isinya angka, Dzul, jadi makin kamu paham data, makin “mahal” nilai kamu di pasar kerja.

5. Pilih “Senjata” Utama Kamu (Spesialisasi)

Digital marketing itu luas banget, dari SEO sampai Copywriting. Jangan coba-coba pengen jago semuanya sekaligus di awal, nanti malah pusing sendiri. Pakai prinsip T-Shaped Skills: tahu dasar semuanya secara umum, tapi dalemin satu bidang yang paling kamu suka. Misalnya, kalau kamu suka analitik, fokus ke Performance Ads atau SEO. Kalau suka kreatif, fokus ke Content Marketing.

6. “Jualan” Diri di LinkedIn & Komunitas

Pindah karier itu soal siapa yang kamu kenal juga. Jangan cuma jadi silent reader di LinkedIn. Mulai sharing apa yang lagi kamu pelajari. Kalau lagi ikut kursus, tulis insight-nya. Komentarin postingan para expert. Dengan begitu, algoritma LinkedIn (dan para recruiter) bakal mulai ngelirik profil kamu sebagai talenta baru yang haus belajar.

7. Berani Mulai dari Bawah (Internship atau Freelance)

Ini bagian yang paling butuh ego besar: siap buat mulai dari awal lagi. Jangan gengsi buat ambil posisi intern atau proyek freelance dengan bayaran yang mungkin belum seberapa. Pengalaman “berdarah-darah” ngurusin campaign beneran itu jauh lebih berharga daripada baca 10 buku teori. Dari sini, mental kamu sebagai digital marketer bakal bener-bener kebentuk.

Kesalahan yang Sering Bikin Gagal Pas Mau Switch Karier

Pindah jalur itu nggak cuma soal semangat, tapi soal strategi. Banyak yang “boncos” di tengah jalan karena terjebak sama kesalahan-kesalahan klasik ini:

1. Cuma Mau Ikut Tren, Tapi Nggak Suka Prosesnya

Jangan pindah ke Digital Marketing cuma karena denger-denger gajinya gede atau bisa work from anywhere. Faktanya, dunia ini penuh sama angka, deadline kampanye yang mepet, dan algoritma yang berubah-ubah terus. Kalau kamu tipe yang nggak betah mantengin spreadsheet atau riset kata kunci berjam-jam, mending pikir-pikir lagi sebelum terjun bebas.

2. Terlalu Fokus ke Teori, Lupa Praktik (Analysis Paralysis)

Ini penyakit umum. Koleksi sertifikat dari Google, HubSpot, sampai Udemy udah segunung, tapi nggak pernah sekali pun bikin iklan beneran atau optimasi artikel di WordPress. Di mata user atau HRD, sepuluh sertifikat kalah telak sama satu studi kasus yang nunjukin kamu berhasil naikin traffic atau dapet leads. Jangan cuma jadi “kolektor” kursus, Dzul!

3. Ngarep Langsung Gaji Gede (High Expectations)

Pindah karier berarti kamu mulai lagi dari nol, atau paling nggak dari level junior lagi. Kesalahan fatal adalah berharap gaji langsung setara sama posisi manajemen kamu yang lama. Kamu harus siap “puasa” sebentar, turun gunung dulu buat cari pengalaman, baru nanti kalau skill udah kebukti, gajinya bakal naik eksponensial lebih cepat dibanding jalur karier konvensional.

4. Nggak Punya Spesialisasi (Jack of All Trades, Master of None)

Banyak orang pengen jago SEO, bisa ngiklan di FB, pinter bikin konten TikTok, sekaligus paham email marketing. Akibatnya? Semuanya cuma tahu kulitnya aja. Padahal, industri sekarang lebih butuh orang yang “dalem” di satu bidang. Kalau kamu expert di SEO, jadilah yang terbaik di situ sambil tahu kulitnya bidang lain. Jangan jadi orang yang tahu sedikit tentang banyak hal, tapi nggak bisa eksekusi satu pun sampai tuntas.

5. Meremehkan Kekuatan Networking

Banyak yang ngirim ratusan lamaran lewat portal kerja tapi nggak pernah nyapa orang di LinkedIn. Padahal, banyak posisi Digital Marketing itu diisi lewat referensi atau karena si pelamar sering bagiin insight yang oke di media sosial. Kalau kamu cuma diem di pojokan nunggu dipanggil interview tanpa ngebangun koneksi, proses switch karier kamu bakal terasa jauh lebih lama dan berat.

Kesimpulan: Mulai Aja Dulu, Sempurnakan Sambil Jalan

Switch karier ke Digital Marketing itu bukan lari cepat (sprint), tapi lari jarak jauh (marathon). Kamu nggak akan langsung jago dalam semalam, dan itu nggak apa-apa. Saya sendiri sudah ngerasain gimana rasanya transisi dari dunia manajemen yang kaku ke dunia digital yang serba cepat.

Kuncinya cuma satu: konsistensi. Jangan cuma berhenti di baca artikel ini atau sekadar koleksi sertifikat. Bikin satu blog gratisan, optimasi satu artikel, atau coba riset satu keyword. Langkah kecil yang kamu ambil hari ini jauh lebih berharga daripada rencana besar yang nggak pernah dieksekusi.

Dunia digital marketing itu luas dan peluangnya masih terbuka lebar banget, apalagi buat kamu yang punya background manajemen karena kamu sudah punya skill kepemimpinan dan organisasi yang kuat. Tinggal tambahin bumbu-bumbu teknisnya, dan kamu siap “meledak” di industri ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top