BAHAYA KAH SOSIAL MEDIA?
Diera yang serba tak terbatas ini, manusia menjadi sangat mudah untuk terhubung dengan manusia lain, ditambah semakin banyaknya platform media sosial dengan fitur yang semakin menarik membuat manusia lebih bisa mengetahui kehidupan orang-orang yang ada disekitarnya. Hal ini tentu merupakan kabar baik sekaligus menjadi kabar buruk bagi kita.
Kabar baiknya adalah Jejaring pertemanan kita tidak akan berkurang, bahkan bisa terus bertambah dan bertambah karena sekalipun kita bertemu dengan orang baru dan bersapa dengannya barang 2-3 kali saja tatap muka, selamanya kita bisa akan terhubung dengannya dengan besua kembali di sosial media. Belum lagi tali silaturahmi dengan kawan lama bisa kembali terjalin dengan adanya sosial media ini. Dan tak jarang juga sosial media menjadi ladang mata pencaharian bagi orang-orang untuk berbisnis, dan juga sebagai ladang untuk membagikan banyak ilmu kepada orang lain.
Lalu kabar buruknya?
Kabar buruknya adalah semakin kesini, sosial media menjadi berubah fungsi. Fungsi yang awalnya adalah wadah untuk menghubungkan orang-orang yang berada dikejauhan, kini menjadi wadah untuk memperlihatkan kemegahan diri. Hal ini terbilang wajar, dengan mengetahui bahwa sifat dasar manusia yaitu untuk diakui. Tapi yang menjadi masalah adalah ketika apa yang tertampilkan di media sosial adalah sebuah keterpaksaan dan kepalsuan.
Berbicara realita. Banyak ditemukan orang-orang yang rela menghabiskan tabungannya untuk membeli sesuatu yang trend lalu kemudian di pamerkan ke sosial media agar terlihat tidak ketinggalan jaman. Banyak pula orang-orang yang telah kehilangan nurani akibat media sosial, maraknya kasus cyber bullying, debat kusir, kriminal, dan lain sebagainya yang muncul di media sosial sehingga tak heran jika tak bisa berlaku bijak dalam penggunaannya maka akan memunculkan kehidupan yang toxic.
Dan dampak yang sangat berbahaya adalah orang-orang akan mulai membanding-bandingkan diri nya sendiri dengan apa yang terlihat di media sosial. Padahal jika ditelisik lebih lanjut, orang-orang yang terlihat bahagia di media sosial belum tentu hidupnya dikenyataan seperti itu.
Orang-orang yang hobi membandingkan diri bisa memberikan efek tidak mencintai diri sendiri dan berdampak pada kurangnya rasa bersyukur terhadap apa yang diri punya, dan kurangnya rasa bersyukur akan berakhir pada ketidakbahagianya hidup.
Maka jangan heran, jika dirimu yang terlalu sering bermain sosial media, terlalu sering membandingkan dirimu dengan kehidupan orang-orang disekitarmu, maka dirimu bisa jadi akan berujung pada stress, tidak produktif, membuang-buang waktu, dan masih banyak kenegatifan lainnya.
Lalu bagaimana cara agar bisa memanfaatkan sosial media dengan bijak?
Saya katakana bahwa, sosial media bagai sebuah mata pisau. Jika kau mahir menggunakannya maka akan banyak segudang manfaat yang bisa kau peroleh. Tapi jika kau tak mahir, bisa jadi kau akan terluka.
Pertama, tanyakan pada dirimu untuk apa kamu membuka sosial media. Jika tujuanmu membuka sosial media sudah jelas untuk hal yang baik, maka silahkan. Tapi kalau kau hanya membuka sosial media hanya sekedar iseng. Maka stop lah. Itu akan membuang-buang waktu berhargamu. Ketika tak ada tujuan untuk membuka sosial media, maka kamu akan dengan mudah terbawa oleh arus-arus negatif sosial media, berbeda jika membukanya dengan tujuan jelas. Akan sulit untuk terdistraksi dengan hal yang tidak penting.
Kedua, kembalikan kepada hakikat, inilah mengapa pentingnya memahami sebuah pemikiran filsuf, yaitu memahami makna awal. Kita semua paham bahwa media sosial diciptakan sebagai wadah untuk menjalin tali silaturahmi dengan orang-orang sekitar. Jika kita paham betul makna tersebut, maka sudah tentu kita akan terus berjalan sesuai alur, sehingga sulit bagi kita untuk terdistraksi oleh ketimpangan-ketimpangan yang muncul di media sosial.
Ketiga, beristirahat. Jika kamu mulai merasakan hal negatif dan tidak sesuai dengan esensi bersosial media, istirahatkan sejenak dirimu. Atur waktu penggunaanmu, dan kalau perlu rehat lah sejenak dari sosial media dalam beberapa waktu untuk kembali memulihkan dirimu.
Begitulah kehidupan, semua memiliki keseimbangan. Ada positif dan ada negatifnya. Dan canggihnya manusia, ia diberikan potensi akal dan potensi pilihan dalam membedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk dimasukkan ke dalam hidupnya.
Maka kembali lagi, semua ada di tanganmu. Seperti apa pilihanmu, seperti apa hidupmu. kamu sendiri yang tentukan, maka dari itu jadilah manusia bijak dengan akal.