BANGKIT KEMBALI
Setiap diri pernah mengalami fase dimana terasa bahwa diri adalah orang yang tak bisa apa-apa orang-orang biasa menamainya fase non produktif, fase malas-malasan, fase terendah. Fase ini seakan membisikkan sesuatu bahwa “Sudahlah… kau tak bisa melakukan apa-apa, berbaringlah di kasurmu dan nikmati setiap detik liburanmu,, bukankah besok masih ada waktu?”
“Bukankah besok masih ada waktu?” sebuah kata yang memberikan sebuah pengharapan sekaligus menghancurkan fitrah diri. Fitrah manusia itu berkembang, bukan diam, apalagi mengharap. Saya sangat yakin setiap orang pernah mengalami bisikan ini. Inilah bisikan kemalasan yang jika kita sadar dan mengelak darinya maka selamatlah kita, akan tetapi jika terpengaruh maka celakalah diri.
“Bukankah besok masih ada waktu?” Ya. Besok masih ada waktu, setiap hari masih ada waktu, selamanya masih ada waktu. Maka jika menunggu waktu besok untuk bergerak. Maka selamanya kau tak akan bergerak. Karena sejatinya waktu itu tak akan ada habisnya, besok itu adalah kata tak terbatas. Bagai fatamorgana, seakan dekat tapi jauh. Seakan ada tapi tiada.
“Bukankah besok masih ada waktu?” Ya. Besok dan selamanya masih ada waktu, tapi besok dan selamanya pun tugasmu bukan hanya itu, beda waktu beda cerita. Semuanya ada porsinya. Hari ini adalah sekarang, besok lain hal lagi.
Setiap manusia disetiap detiknya diberikan tanggungjawab yang berbeda-beda. Jika sampai menundanya walau sepersekian detik pun, maka kacaulah semuanya. Coba sejenak perhatikan fenomena ketika pagi hari di kota besar, ketika ingin berangkat bekerja, manusia-manusia akan bertempur dengan waktu, pukul 05.00 harus berangkat, jika lewat 5 menitpun, tamatlah ia dengan waktunya, jalanan pasti sudah bertempur dengan suara klakson mobil dan motor. Tapi berbeda dengan mereka yang berangkat tepat pukul 5.00 atau sebelumnya, jalanan masih adem ayem, embun pagi masih bisa bersapa ria dengan udara pagi yang dingin. Ingat. Beda beberapa menit saja. Aneh memang kedengarannya tapi inilah hidup. Inilah sebuah fakta. Inilah kenyataan yang berbicara.
Hal yang paling disiplin adalah waktu, hal yang paling egois adalah waktu, hal yang paling otoriter adalah waktu dan hal yang paling kejam adalah waktu, hal yang paling mematikan adalah waktu.
Tapi, tak selamanya manusia harus berdarah-darah bertempur dengan sang waktu. Adakalanya memang kita harus mengambil jeda dengan waktu, beristirahat untuk mengumpulkan kembali tenaga yang habis terkuras, tapi lagi-lagi istirahat bukan berarti menghentikan semuanya. Kita juga harus tetap waspada. Istirahat juga ibarat narkoba. Yang jika pemakainya melebihi dosis yang dibutuhkan tubuh, perlahan akan menjadi candu dan menghancurkan tubuh.
Bangkit dan kembali.. begitupun dengan penulis yang pernah berhenti sejenak untuk menulis, dan bahkan pernah candu oleh istirahat, dan sering pula di bisikkan oleh kemalasan. Tapi ketika kembali lagi mengingat untuk apa saya menulis, dan manfaat yang saya dapatkan maka seketika gemertak ombak semangat kembali tinggi dan membuat bara api.
Maka untuk setiap insan yang menhendaki kebaikan dalam diri. Bertempurlah dengan waktu, lawanlah kemalasan, istirahat perlu tapi jangan sampai membuatmu candu. Bangkit kembali dari keterpurukan, bangkit kembali dari kemalasan. Karena kesuksesan dan kebahagiaan tengah mempersiapkan pesta untuk menjemput kehadiranmu.
Salam sukses!!!