
Bercerita tentang keluarga pasti membuat sebagian besar orang melankolis, banyak kenangan, tentram. . Benar.. keluarga adalah tempat yang paling nyaman untuk berbagi kasih, keluh, kesah, bergurau, sedih, tawa, semua dapat dirasakan melalui keluarga.
Bagi sebagian besar orang. Keluarga baginya adalah segalanya. Didalamnya kita merasa mendapatkan keperdulian, perlindungan, rasa aman. Karena keluarga adalah tempat pertama dalam proses kehidupan kita.
Keluargalah tempat jumpa pertama kita di dunia ini. Faktor yg mendasari tumbuhnya manusia adalah keluarga. Ada pendapat berkata bahwa, keluarga adalah harta yang paling indah, menurut saya itu sangat betul. Tanpa keluarga, diri ini merasa akan ada sesuatu yang ganjil, tidak lengkap. Berasa tidak memiliki Dan dimiliki. Ketika menghadapi masalah, diri akan kesulitan untuk mencari siapa yang dapat dipercayai.
Begitu banyak yang sudah tak memiliki keluarga, yang sangat merindukan suasana hangat itu. Terkadang hanya tetesan air mata yang menjadi pelampiasan kerinduan. Ada rasa cemburu yang muncul ketika melihat suasana hangat, bersamaan dengan rasa sakit. Bahkan depresi pun juga akan menjadi akhir jika tak segera diatasi.
Dengan begitu, kesabaran, keteguhan, dan kepercayaan akan sebuah takdir yang menjadi penyelamat dikala situasi mencekam itu datang.
Lalu ada pula yang masih memiliki keluarga akan tetapi tak memanfaatkan kesempatan untuk saling berbagi kasih itu, seakan melupakan harta terindah yang dimilikinya. Rasa kasih sayangnya telah tertutupi oleh kesibukan tiada henti. Sehingga tiada lagi tertanam nuansa kenyamanan didalamnya.
Pusing jikalau masalah melanda, tapi tak ingat bahwa ada banyak solusi yang bisa ia dapatkan di dekatnya. Itulah orang-orang yang rugi.
Ada suatu kisah menceritakan seorang anak perantauan, dulunya iya sangat dekat dengan keluarganya. Apa yang ia butuhkan, selalu minta bantuan dengan orang tuanya. baik itu tugas sekolah, masalah teman,dan sebagainya. Bisa dikatakan tiada sekat antara dia dan orang tuanya.
Semasa ia ingin memasuki kuliah ia memutuskan untuk merantau dari kampung halaman. Memang berat rasa dari keduanya untuk memutuskan hal itu. Akan tetapi demi untuk meraih cita cita anaknya maka dengan berat hati orang tuanya melepaskannya.
Di awal perantauannya keduanya masih sering berkomunikasi lewat media sosial. Tetapi seiring berjalannya waktu si anak mulai sibuk dengan kuliah dan kegiatan sosial lainnya sehingga mereka sudah jarang ada komunikasi. Yang dulunya si anak yang sering mengabarkan duluan sekarang yang mengabarkan duluan adalah si orang tua.
Secara tidak sadar telah terjadi kesenjangan pada keluarga itu. Hingga akhirnya pun si anak itu mendapat liburan dari kampusnya anak itu tetap sibuk Dan lupa pulang.
Mendengar kabar bahwa anaknya libur, orang tuanya lalu menelpon. Lalu terjadi percakapan singkat dengan sang anak
“Assalamualaikum nak!”
“Walaikumsalam bu”
“Gimana kabarnya nak? Masih sibuk kuliah?”
“Sebenarnya sekarang sudah liburan bu. Tapi..”
“Kamu tidak ada rencana mau pulang nak? Banyak keluarga yang menunggu”
“Aduh, gimana ya Bu.. mungkin next time aja ya Bu.. soalnya dekat dekat ini akan ada acara besar Bu.. gak apa-apa kan?”
“Oh ya sudah.. baik-baik ya di sana..”
Sebenarnya sangat ingin orang tua anak itu untuk bertemu rindu dengan anaknya.. tapi disisi lain, ia juga merasa tak enak untuk mengganggu urusan anaknya. Hingga akhirnya ibu itu hanya bisa meneteskan air mata dan do’a sebagai obat dari kerinduan.
Sementara dirinya yg sudah merasa nyaman dengan suasana kota melupakan tempat kelahiran serta sanak keluarganya.
Maukah kita menjadi anak yg lupa diri? Melupakan orang-orang yang jasanya besar di hidup kita? Lalu ketika sudah merasa aman kita tinggalkan mereka?
Janganlah.. tanpa dirinya, kau tidak mungkin menjadi yang sekarang. Jangan tertipu dengan kenyamanan semu, ketahuilah, hal yg paling nyaman di dunia ini adalah keluarga. Tidak ada yang lain. Saat ini mungkin kau merasa biasa biasa saja. Tapi suatu saat, semandiri apapun dirimu, pasti kau akan memerlukan nya.. bahkan jika keluarga mu sudah tidak ada lagi, kau akan sangat merindukannya. Ketidakpedulian mu sekarang akan berubah menjadi penyesalan yang hanya bisa kau pendam sendiri.
Untuk kaula muda yang sedang jauh dari kampung dan keluarga. Jangan sampai yang menelpon mu duluan adalah ibu / ayahmu, kabarilah mereka, tidakkah engkau tahu bahwa seberapa khawatirnya dirinya jikalau tlah lama tak mendengar suaramu?
Tidakkah dirimu demikian? Ataukah memang telah tertutup sudah ikatan emosional mu dengan keluarga dekatmu? Ayah dan ibumu? Tidakkah kau merindukan suaranya? Atau jangan-jangan engkau sudah kabur akan suaranya.
Dan tidak pula kah kau mengingat ketika dulu kau merengek-rengek ingin meminta perhatiannya? Ia pasti akan berusaha untuk memenuhinya sesibuk apapun ia. Lalu apakah hal itu berlaku buat diri mu?
Untuk ibu, ayah, kakak, ataupun adikmu, selama ia masih ada, dan masih dapat engkau jangkau.. sayangilah.. peliharalah hangatnya cinta kasih antara mereka, eratkan tali kekeluargaan dan jangan sampai kau putuskan. Tinggalkan dulu kesibukan dan kenyamanan semu mu itu.. kenyamanan sesungguhnya akan kau dapatkan pada keluargamu..