KEMBALI KE RUMAH
Apa itu rumah? Mengapa harus kembali ke rumah?
Masing masing dari kita memiliki definisi tentang rumah. Ada yang mendefinisikan rumah itu tempat berkumpulnya keluarga, ada yang mendefinisikan rumah itu tempat untuk beristirahat, dan ada pula yang mendefinisikan rumah itu adalah Kembali kepada Tuhan. Lalu apa definisi rumah menurut mu?
Bagi penulis yang notabene sebagai perantau, kata “rumah” adalah yang tersejuk ketika lewat di daun telinga, masuk dan hinggap dalam angan. Kata “rumah” adalah tempat sejuta kenyamanan dan kerinduan bersarang. Kata “Rumah” adalah tempat nostalgia terindah, bagai sebuah memori yang tak memiliki batas penyimpanan kenangan yang direkam jelas oleh sang waktu dan disimpan rapi oleh masa lalu. Semua tersusun rapi di setiap sudut folder. Ada folder suka, ada folder duka, ada folder tangis, dan ada pula folder tawa. “Rumah” adalah saksi bisu kehidupan nyata.
Masih ingatkah ketika dirimu yang masih setinggi lutut orang dewasa, menangis ketika apa yang kau inginkan tidak dituruti oleh orang tuamu? Ketika ibumu pulang dari pasar dan kamu menitipkan sebuah kelereng berwarna putih susu, kamu menuggu di sudut teras sambil berharap kedatangan ibumu disertai kelereng susu itu, perasaan senang ketika ibumu tiba membawa kresek hitam penuh sayuran, lalu kamu lompat kegirangan. akan tetapi dikala kau tahu ibumu tidak memenuhi permintaanmu, entah dia lupa atau uang tidak cukup atau mungkin dia sudah mencari tapi tidak mendapatkan. Lalu tiba perasaan kecewa dan air mata jatuh kepipi disertai teriakan benci.
Mungkin sebagian dari kalian pernah merasakan hal yang sama dengan penulis ceritakan atau mungkin dengan kasus berbeda. Masih ingatkah? Kalau Ya, mungkin kamu sedang bernostalgia sekarang sambil senyum-senyum sendiri. silahkan bernostalgia sejenak mengenang keluguan kita semasa kecil.
Bagi orang yang sedang jauh dari rumah entah karena alasan pendidikan, pekerjaan, tugas, dll. Coba ingat-ingat, kapan terakhir kalian menginjakkan kaki di rumah? Masih ingatkah wajah orang-orang yang melepaskanmu pergi dengan berat hati dan penuh harap? Lalu bagiamana kabarnya sekarang. Tahukah sedang apa mereka? Sehatkah? Sakitkah? Dalam kondisi buruk kah? Atau sama sekali kamu tak pernah menanyakan kabarnya dengan alasan sibuk? Atau kamu hanya mengabarinya ketika lagi perlu bantuan? Tidakkah berpikir jikalau mereka rindu dan menunggu kabarmu yang jauh disana? Bagaimana kalo mereka sedang tidak baik-baik saja. Coba pastikan!
Cobalah,, selepas membaca tulisan ini, ambil handphone mu dan telepon mereka. Jangan sms ya, tapi telepon kalau perlu pakai teknologi yang memungkinkan kalian bertatap muka. Tatapi wajahnya yang kian waktu kian mengeriput. Resapi kembali suara indahnya yang telah lama menantikan kabarmu. Lihatlah dan dengarkan. Tanya kabarnya selama ini, kondisi kesehatannya, ekonominya.
Dan bagaimana dengan perasaanmu? Percayalah sesuatu yang sangat ingin dia katakan tapi tak enak mengganggumu yakni
“Pulanglah nak, kami disini rindu kehadiranmu. Pulanglah sejenak, kami ingin berbincang hangat denganmu tanpa halangan jarak. Meski hanya sebentar.” Papa & Mama.
Yaa.. mereka rindu. mereka butuh kau ada sejenak duduk di sampingnya untuk mendengarmu bercerita tentang dirimu saat ini. mereka rindu saat-saat dimana dahulu kamu sering cerita tentang temanmu yang tak sesuai dengan dirimu, gurumu yang selalu memarahi mu, dan seorang perempuan cantik kau kau suka. raut muka mu ketika bercerita dan keterbukaanmu tentang hidup. itulah yang mereka rindukan. dan percayalah orang tua adalah pendengar terbaik sepanjang masa dan motivator terbaik di dunia.
wahai pengelana jarak.. yang sedang sibuk di perantauan sana. Sisakan waktumu untuk kembali ke rumah. Buatkan kejutan hangat untuk mereka dengan kehadiranmu sebagai obat rindu. Karena sejauh apapun kaki melangkah, rumah adalah tempat ternyaman untuk pulang.