Mimpi Tak Bisa Mati, Ia Hanya Mati Suri

Saya seringkali mendengar bahwa mimpi di masa muda yang terkubur, akan kembali bangkit di usia tua dalam bentuk penyesalan.

Mimpi yang terpaksa dikubur sejak muda, akan bangkit dalam bentuk perandaian.

“Andai saja, saya waktu masih muda itu saya tidak menyerah, saya tidak putus asa, mungkin saya sudah menjadi apa yang saya. mau…”

Lantas, karena merasa sudah terlambat, kita pun hanya dapat pasrah, terbaring di tempat tidur dalam angan penyesalan.

Tapi, yang menjadi tanda tanya, sewaktu muda itu, kenapa sih kita sebegitu cepat menyerah?

Ya tak lain dan tak bukan, karena perasaan takut salah arah. Takut ketinggalan.

Contoh:

Ada seorang pemuda, sebut saja namanya Dimas. Dimas ini bercita-cita ingin jadi penulis. Ia berumur 24 tahun.

Ia giat menulis, membuat blog, belajar teknik-teknik menulis melalui youtube, webinar, sampai seminar offline. Sampai akhirnya, ia telah menghabiskan waktu kisaran 3 tahun belajar.

Dimas sudah sempat menerbitkan buku, meskipun di penerbit indie kecil. Karena itu penerbit kecil, pastinya ia harus memasarkan bukunya sendiri, keliling ke toko buku kecil satu per satu. Namun apa daya, beberapa menolak, pun ada yang menerima, hanya berakhir di rak buku dan berdebu.

Sampai akhirnya, di usia 30 tahun, ia stress, mimpi yang ia rajut dari waktu ke waktu tampaknya tak ada progress.. Overthinking menyelimuti pikirannya tiap malam.

Ia takut akan kegagalan, dia mulai mempertanyakan mimpinya. “Betulkah menjadi penulis ini jalanku?”

Ia mulai ragu, perlahan menggali kubur untuk mimpi yang telah ia bangun.

Ditambah lagi bumbu-bumbu social media, ia melihat kawannya, yang dulu seangkatannya, sudah terlihat sukses. Akhirnya, ia pun mulai mengubur mimpinya, dan berbalik melupakannya.

Ia mulai berjalan berseberangan dengan apa yang ia citakan dulu. Bekerja kantoran, sebagai admin di sebuah perusahaan “nanggung”.

Dimas pergi dan pulang kantor setiap hari, Senin sampai Sabtu. Dan bahkan tidak pernah lagi menziarahi kubur mimpinya.

Waktu berlalu..

Umur sudah mulai menginjak kepala 4.

Entah ada angin apa, ia mulai rindu akan mimpinya.

Dimas, saat itu tengah merenung di pinggir jalan sambil menghisap rokoknya.

Ia mengecek sosial media, tiba-tiba algoritma membawanya ke content seorang penulis buku. Yang mengisahkan dirinya sewaktu berjuang menjadi penulis.

Cerita sosok itu hampir mirip dengan ceritanya. Ia jatuh bangun merintis kariernya sebagai penulis. Tepat, ia baru berhasil menjadi penulis di tahun ke-5 ia berjuang.

Deggg… seolah ada duri yang menghantam hatinya.. Tiba-tiba mimpi yang ia kubur bangkit.. Menjadi hantu, bergentayangan di pikirannya.

Lalu mimpi itu tak kunjung pergi, hari-hari menghantui.

Lalu terucaplah kata. “Andai dulu aku tidak berhenti”.

“Andai dulu berjuang sedikit lagi…”.

Mimpi yang bergentayangan itu tak kunjung kembali ke kuburnya.. seakan hantu gentayangan yang selalu penasaran, dendam, sangat dendam dengan masa lalunya.

“Andai dulu saya tidak berhenti, mungkin saja saya sudah menjadi penulis yang terkenal sekarang”

“Andai saya bertahan sedikit lagi, saya sudah tidak perlu lagi seperti ini”

“Andai saya berusaha sedikit lagi, mungkin saya sudah menelurkan puluhan buku best seller”

Perandaian ini tak kunjung selesai. Hingga akhirnya, menjadi sebuah penyesalan hingga akhir hayat.

*****

Ya, begitulah hakikat mimpi.

Mimpi tidak akan pernah mati.

Ia hanya mati suri.

Yang kuat adalah mimpi ketika masa muda.

Ketika darah mudah sedang berbara.. Di situlah mimpi sejati terbakar.

Namun sayangnya, kadang kehidupan memaksa kita untuk berbalik arah.

Itulah konsekuensi kehidupan.

Pahit memang antara memilih hidup sesuai mimpi, atau hidup sesuai kondisi.

Terkadang faktor eksternal ikut mempengaruhi.

Terkadang keluarga, pasangan, pun ikut menjadi penentu bagaimana kita mengejar mimpi.

Untukmu di sana, para pejuang mimpi. Memang tak semua mimpi bisa diraih.

Tapi…

Kita adalah manusia…

Manusia bisa memilih..

Memilih untuk mengejar mimpi sampai mati.. Atau berkompromi agar tidak mati.

Ada satu lagi ilustrasi yang mengingatkan saya tentang mimpi..

Jangan mempertanyakan “But Why”.. Tapi “Why Not”

Seekor penguin yang memilih berpisah dari teman sekelompoknya, ia memilih tidak mengikuti arus.

Ia memilih untuk berjalan sendiri, mengejar mimpinya, mengejar angannya, mengejar rasa penasarannya.

Ia memilih untuk berpisah dengan rasa aman dari kelompoknya, menantang maut demi mencapai apa yang dia asa.

Ya, menurut saya, jadilah penguin itu.

Memilih jalanmu sendiri.

Memilih takdirmu sendiri.

Meskipun pada akhirnya kamu mati. Tapi setidaknya, kamu mati dalam memilih mimpi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top