Quarter 2: Yang Penting Masih Punya Harap

Tak terasa, 2024 sudah memasuki quartal 2. Artinya, sudah 3 bulan kita menjajaki tahun ini.

Bagaimana dengan cerita tahun ini? Nampak gado-gado, bukan?

Bagaimana cerita cintamu, yang mungkin tededikasikan untuk mengejarnya dari tahun lalu, dan, mungkin berharap mengejar lebih keras lagi tahun ini. Bagiamana progresnya?

Bagaimana kariermu? Oh, kamu yang mungkin menargetkan kenaikan gaji, pindah kerjaan, atau mendapatkan pujian atasan dari progres kerjamu. Namun, bagaimana progresnya?

Bagaimana hubunganmu dengan orangtua? Oh, mungkin yang awalnya renggang, kamu ingin memperbaiki tahun ini agar menjadi lebih romansa. Bagaimana progresnya? Semoga semakin membaik, ya. Harapmu menjadi harapku juga. Semoga kita semua menjadi anak yang berbakti.

Bukan…

Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti, apalagi memaksa untuk mengejar semua harap-harap yang sudah kau torehkan di buku diarymu kala penghujung 2023 kemarin.

Namun, ini hanya sekadar reminder.

Reminder bahwa ternyata kita masih menjadi manusia. Yang masih memiliki harap. Yang masih memiliki tujuan. Yang masih ingin bertumbuh. Karena itulah yang penting.

Bukan soal apakah semua cita dan harapan tersebut harus dicapai dalam waktu dekat. Bukan.

Karena tercapai atau tidak, itu tidak semua dalam kendali kita. Dalam makna mendalam, “manusia berencana, Tuhan yang menetapkan”.

Toh, sebelum tahun ini, kita banyak menorehkan harapan di atas kertas namun tidak semuanya tercapai. Dan, itu bukan berarti bahwa kita gagal untuk menjadi manusia.

Tidak..

Tidak ada manusia gagal, selama ia masih menaruh harap, selama ia masih mempunya tujuan, selama ia masih ada pegangan hidup.

Kita, manusia yang dicipta dan terlahir, hanya untuk menjadi pemenang. Pemenang akan diri sendiri.

Maka, konotasi manusia gagal itu, menurut saya, adalah SALAH.

Untuk apa Tuhan mencipta jikala kita hanya dicipta untuk menjadi manusia gagal? Betul, bukan?

Jadi, tidak ada yang salah.

Yang terpenting. Kita punya tujuan hidup, Kita masih ada makna dalam menjalani hidup.

Karena begitulah kehidupan bekerja. Ketika kita masih memiliki alasan, ketika kita masih memiliki makna, ketika kita masih memiliki tujuan.

Jika tujuan satu belum tersampai, masih banyak tujuan-tujuan lain yang menunggu.

Yang penting, kita masih punya tujuan.

Dan..

Tujuan yang paling kekal adalah “Mengharapkan Ridho Allah di Setiap Langkah dan Hembusan Nafas Kita”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top