Imam Al Ghazali Pernah berbicara tentang Ilmu, beliau berkata
“HAL yang paling diinginkan manusia adalah kebahagiaan yang abadi.
Hal yang paling dibutuhkan manusia adalah sarana menuju kebahagiaan.
Itu semua bisa diraih dengan amal, sedangkan amal hanya bisa dilakukan dengan ilmu tentang cara beramal.
Jadi, pangkal kebahagiaan di dunia dan akhirat adalah dengan Ilmu. Dengan demikian, mencari ilmu adalah amal yang paling utama”.
Demikian perkataan dari Imam Al Ghazali yang sangat membuka pikiran kita tentang betapa dahsyatnya kekuatan ilmu, betapa penting dan kontributifnya ilmu itu mengenai kebahagiaan kita.
Siapa sih yang tidak ingin bahagia di dunia ini? Semua orang tentu mendambakannya, namun tak semua orang bisa mewujudkannya, karena terkadang ekspektasi itu jauh di luar kenyataan bagi orang yang tak cukup niat untuk menggapainya, atau bagi orang yang tak pandai mencari sarana untuk menggapainya.
Akan tetapi bisa saja ekspektasi itu akan berbanding lurus dengan kenyataan, bagi orang orang yang memiliki niat yang besar, dan bagi orang yang mau berusaha untuk menggapainya.
Dengan cara apa?
ILMU dan AMAL.
Yaa.. dengan cara itu kebahagiaan bisa diperoleh. Lalu apa contohnya dalam kehidupan sehari hari?
Sebagai contoh, untuk hal ilmu, kita ambil sampel seorang anak kecil yang sangat ingin membuat pesawat mainan dari kertas. Namun apa daya ia tak punya cukup ilmu untuk membuatnya. Lalulah kebahagiaan itu tergnti dengan tangisan sang anak, karena apa yang ia inginkan tak terwujud karena tak punya cukup ilmu untuk membuat pesawat mainan dari kertas itu.
Berbeda halnya dengan anak kecil yang lain, ia memiliki target kebahagiaan yang sama dengan anak kecil yang tadi. Akan tetapi yang membedakan adalah anak ini mempunyai cukup ilmu untuk membuat pesawat mainan dari kertas tadi, maka tercapailah keinginan anak kecil itu. Dan bukankah tercapainya hasrat seseorang adalah pertanda kebahagiaan? Dan bukankah ketidaktercapainya hasrat seseorang adalah suatu kesedihan baginya?
Lalu bagaimana dengan contoh kebahagiaan amal?
Kita tentu pernah makan disebuah warung makan di pinggir jalan, dimana warung makan itu tidak bersifat tertutup dan bebas dihampiri oleh kalangan mana saja. Tentu ketika kita sedang makan pasti kita pernah di hampiri oleh para pengamen pinggir jalan, ketika kita melihat wajahnya, kenapa kita tidak sekali kali merenung tentang nasib dari pengamen jalanan itu. Ia yang rela rela untuk berkeliling di sekitar warung makan satu dengan warung makan yang lain, ia bahkan ada dari kalangan anak sampai dengan kakek kakek, tentu ketika disuruh untuk memilih ia pun tidak akan mau bernasib demikian, karena manusia sejatinya semua mendambakan kesuksesan dan kebahagiaan. Tapi apa daya bagi kalangan mereka yang tak cukup Pendidikan untuk mengenyam pekerjaan yang layak di negara ini, tentu mereka harus menjalani nasibnya sebagai pengamen jalanan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, itu adalah bentuk usaha mereka untuk rela menyanyikan beberapa lagu untuk menghibur kita yang sedang makan, tanpa peduli rasa malu karena yang terpenting baginya adalah yang ia butuhkan untuk kebutuhan makannya saja. Ketika kita merenunginya, pasti terbesit di hati kita untuk sekedar membagi recehan yang kita punya untuknya. Ketika kita membagikannya, lalu lihatlah ekspresi mereka, bukan kah itu adalah sebuah kebahagiaan mereka? Lalu rasakan dalam hati kita. Pasti tersirat kebahagiaan juga pada hati kita ketika kita telah memberikan sedikit harta kita kepadanya. Karena memang. Fitrah seoang manusia untuk menggapai kebahgiaan adalah dengan cara berbagi.
Itulah proses untuk mencari kebahagiaan, kita harus memerlukan sebuah ilmu untuk memperolehnya, dan juga amal adalah hal terpenting.
Beramallah dengan berbagi… Bukankah Tuhan telah menjanjikan tidak akan di timpa suatu kemiskinan kepada seseorang apabila ia selalu berbagi dalam hidupnya.
Bagikan apapun yang kamu punya. Dan salah satu hal yang dapat di bagikan dan bermnfaat pula bagi diri kita yaitu berbagi Ilmu, dengan ilmu yang di dapat lalu di transferkan kepada orang lain, lalu orang itu mengamalkannya maka disaat itu pula kita telah berinvestasi untuk akhirat kita. Karena pahala kita akan terus mengalir walaupun kita telah tiada di dunia ini. Selama ilmu yang kita berikan itu adlah ilmu yang positif untuk kebaikan.
Lalu? Apalagi yang membuat kita untuk bermalas malasan dalam hal menuntut ilmu? Kecuali bagi kita yang tak ingin bahagia, silahkan bermalas malasan. Akan tetapi bagi yang ingin bahagia, silahkan berlelah Lelah dalam menuntut ilmu, maka lelahmu akan menjadi kenikmatan di suatu saat nanti.