Kala terbesit kata merantau ditelinga kita, persepsi apakah yang akan muncul di kepala kita? Ada yang bilang sebagai perantau itu enak, bisa bebas ngapain aja, mau pulang malam jam berapapun gak ada yang marahin, tidak ada aturan, yang ada hanya aturan diri sendiri. Lalu ada pula yang bilang, rantau itu gak enak, serba terbatas, awal bulan happy happyan tapi pas akhir bulan melarat, kadang kesepian, jauh dari orang tua, terasingkan, dan masih banyak lagi persepsi tentang perantau.
Dapat dikatakan saya sendiri adalah orang yang perantau, dari SMP saya sudah jarang lagi tinggal di rumah, dari SMP sampai SMA, saya tinggalk berasrama, lalu ketika kuliah saya tinggalkan kampung halaman merantau ke pulau orang lain.
Mungkin timbul pertanyaan
“Apa yang dulu saya rasakan ketika hendak merantau?”
Yaa, sebagai orang yang memang dari sononya sudah jarang tinggal dirumah, yaa itu adalah hal yang biasa, akan tetapi ada perasaan lain yang saya dapatkan. Secara,, ini adalah perantauan beda pulau. Bukan lagi beda kota, terlintas sedikit pergolakan dalam batin, akan tetapi itu tak menyurutkan semangat untuk merantau.
Persepsi orang terhadap perantauan itu seperti yang saya tuliskan diatas baik positif maupun negatifnya itu ada semua, dan murni sudah saya rasakan. Jadi, merantau itu ada “enaknya” dan ada pula “nggak enaknya”. Jadi semua itu bakalan dirasakan oleh perantau, tinggal diri sendiri yang mengelolanya, apakah kita ingin tahan melawan rintangan atau malah hanyut terbawa oleh rintangan.
Menjadi perantau berarti memberanikan diri untuk meninggalkan zona nyaman ke zona rawan. Satu ketakutan sudah di kalahkan oleh orang perantau, satu keberhasilan sudah di dapatkan oleh perantau, dan satu langkah kedepan sudah di raih oleh perantau. Perbedaan pola pikir akan menjadi pembedanya, tahan banting akan kesusahan dan kelelahan karena kesemuanya sudah menjadi makanan sehari hari anak perantau.
Beberapa pepatah arab yang saya dapatkan dari buku “Negeri 5 Menara” yang telah menarik perhatian saya yang kemudian memberanikan diri untuk merantau, diantaranya perkataan dari imam syafii.
“Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
-Imam Syafii-
Qutipan itulah yang membuat saya menjadi semangat dikala kelelahan datang menghampiri dikampung orang lain. Seakan tulisan itu memiliki sihir yang tiba tiba mendongkrak kemalasan saya.
Dan memang benar, apa yang saya dapatkan di perantauan ini banyak positifnya, saya menjadi banyak belajar dari kehidupan orang yg notabenenya berbeda dengan oranh di kampung saya. Mulai dari pola pikir, bahasa, cara bergaul yang banyak berbeda sehingga memberikan saya pengalaman yang saya rasa tidak akan saya dapatkan ketimbang saya hanya tinggal dikampung saya.
Oleh karenanya bagi kalian yang merasa ingin merantau tapi ragu, coba pikirkan sekali lagi. Kalo tak cukup dari tulisan saya cobalah untuk mencari tulisan tulisan lain yang membahas tentang suasana rantau. Pasti tidak ada satupun yang mengemukakan perihal negatif terhadapnya. Karena memang, merantau itu nikmat. Bagaikan secangkir kopi. Awalnya terasa pahit. Akan tetapi ketika engkau pintar untuk menikmatinya maka akan terasa manis yang hanya ditemukan melalui kopi itu.
Dan bagi kalian yang tengah merantau entah dimanapun itu. Percayalah engkau tak sendirian, inilah perjuangan hidup yang suatu saat akan kita rindukan ketika sukses kelak. Percayalah akan petuah dari Imam Syafii. “Berlelah-lelah lah.. manisnya hidup akan terasa setelah berjuan”. Jalani hidupmu dengan sebaik baiknya menurut versimu. Jangan sampai terlena oleh kenikmatan sesaat. Dan ingatlah engkau telah merelakan pisah dari kedua orang tuamu. Berikanlah hadiah terindah dari hasil rantauanmu itu.
Selamat berjuang
Salam anak perantauan
Salam sukses buat kita semua.