Bagaimana Jika Aku Gagal?

Usia 20-30an mungkin menjadi masa-masa frustasi, overthinking, dan semuanya terlihat tidak jelas, ragu.

Pasalnya, banyak yang bilang usia ini adalah masa krisis untuk menentukan mau seperti apa hidupmu ke depan 20-30 tahun lagi.

Oleh karenanya, banyak orang yang menghabiskan masa pada usia ini untuk betul-betul bertempur, mencari, dan mengembangkan apa yang mau mereka raih.

Susah tidur,

Stres,

Overthinking,

Frustasi,

Takut,

Semuanya campur aduk menjadi satu.

Setiap malamnya, saat menutup mata, selalu membayangkan apa yang akan terjadi ke depan.

Setiap bangunnya selalu merasa khawatir akan seperti apa hari yang akan dilaluinya nanti.

Setiap renungnya selalu berpikir, apa lagi yang harus kulakukan untuk bisa sukses.

Setiap diamnya terbesit pertanyaan, bagaimana jika aku gagal?

Belum lagi dunia maya dipenuhi oleh omong kosong glamor.

“Saya bisa membeli rumah di usia 24 tahun” dengarnya di Instagram.

“Saya punya tabungan 1M di umur 26 tahun” bacanya di Twitter.

Lalu, ditutupnya kembali social media lalu kembali merenung, cemas, dan kembali meragukan diri.

Bertanya kembali. “Seperti apa diriku ke depan?”

Belum lagi, waktunya dikejar oleh umur orang tua yang janjinya ingin membahagiaan segera. Membalas budi karena telah membesarkannya, merawatnya, menyekolahkannya, selama bertahun-tahun.

Tapi apalah daya, pergantian tahun, setiap pulang ke rumah, hanya pertambahan kerut di dahi orang tua yang ia jumpa, yang seakan menjadi lonceng pengingat baginya, “Hei, waktumu kian menipis”.

Waktu pun berlalu, betapa banyak wishlist yang sudah ditulis, betapa banyak to do list yang rapi tercatat. Tapi sialnya, semuanya berakhir sama.

Waktu pun berlalu, betapa banyak usaha yang sudah dicoba, tapi akhirnya gagal, gagal, gagal, dan gagal lagi.

Frustasi lagi, kecewa lagi, marah lagi, dan berakhir menyalahkan diri.

“Bagaimana jika aku gagal?” kalimat yang berulang kali menganggu pikiran dikala merenung.

“Bagaimana jika aku gagal?” kalimat yang semakin jelas terngiang dikepala, dan semakin membuat tenaga hampir menyerah.

Tapi, mari kita ganti pertaannya. Mari kita rubah sedikit POV-nya.

“Bagaimana jika ini berhasil?”

Bukan kah nyata sebuah energi besar akan tumbuh bergejolak?

Bukan kah nyata sebuah pikiran positif yang mendorong diri untuk berpikir “Selanjutnya bagaimana?”

“Bagaimana jika ini berhasil?”

Bukankah ini adalah mantra di mana Kamu akan dibangunkan dari tidur dengan penuh semangat? Untuk terus berperang melawan dan menghabiskan jatah gagal?

“Bagaimana jika sedikit lagi berhasil?”

Bukan kah Tuhan telah berjani, bahwa “Tuhan akan sesuai prasangka hambanya”.

Bahwa Tuhan, akan mengabulkan doa, sesuai dengan prasangka hambanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top