Sudah lama saya tidak menaburkan tinta pada laman ini. Kendala waktu adalah alasan paling terlihat masuk akal. Namun sejatinya, kemalasan adalah faktor yang utama.
Saya tidak tahu jelas ingin cerita soal apa saat ini, kesepian yang memaksa saya untuk membuka kembali catatan yang sudah lama tidak terjamah.
Belakangan ini, saya merasa terlalu sibuk dengan pekerjaan, terlalu haus akan materi, terlalu sibuk menyembah sistem, terlalu bingung dengan pilihan perjalanan yang begitu banyak dan entah akan seperti apa ujungnya.
Selalu saja dalam kesendirian saya berpikir, ada yang janggal dengan hidup yang saya jalani. Tapi semakin kutelusuri semakin menjadi-jadi kebingungan itu. Yang justru mengantarkan kepada keputus-asaan dan penyerahan.
Pertimbangan demi pertimbangan amatlah banyak, memilih menjadi sosok idealis atau realis. Semua pertimbangan atas dasar mengarah “Mau Menjadi Apa Saya di Masa Depan?”
Memilih menjadi realis akan banyak meninggalkan kejanggalan dalam hati tapi memilih menjadi idealis akan banyak meninggalkan kesendirian dalam perjalanan.
Semua kebimbangan ini pun mengantarkan saya pada krisis identitas yang amat panjang. Pikiran dan hati pun tak ugahnya berdebat dan berkata, “Tidak begini semestinya, tidak begini seharusnya, kamu harusnya begini kamu harusnya begitu” .
Semua pertimbangan juga tak ugahnya hanya seputar sibuk mencari arti kebahagiaan, sedangkan kebahagiaan pun terdefinisi begitu banyak mengikuti aliran hidup yang terbawa.
Sedang, aliran hidup juga sungguh lah banyak. Semua jago mendefinisikan arti kehidupan dan kebahagiaan yang ideal menurutnya masing-masing, sehingga kebimbangan untuk memilih yang benar semakin tak membendung.
Jika kita mencari jalan apa yang benar, sampai tua pun tak bisa mendapat ujung jawabannya. Semua memiliki peran, semua memiliki arti, semua memiliki pondasi argumen yang menyatakan, “Inilah kebenaran yang sesungguhnya”.
Semua pilihan memiliki konsekuensi yang harus tertanggung.
Yang artinya jika terus membandingkan kenikmatan demi kenikmatan yang ada malah justru merasa kesengsaran. Maka benar kata petuah yang mengatakan jangan membandingkan diri dengan orang lain yang tak ubahnya sama dengan perjalanan hidupmu.
Tapi apalah daya bahwa hasrat manusia yang penuh dengan ego dan selalu terlihat ingin diakui. Proses membandingkan diri menuju pencarian kebahagiaan amat sangat susah untuk dibendung.
Belum lagi tuntutan orang terkasih yang pandangannya terus menerus pada materi. Sehingga yang tertuntut pun menjadi sengsara dan bingung mau mengikuti langkah yang mana. Padahal, semuanya jelas berbeda dari awal.
Bingung? Ya, itu yang banyak dialami oleh para milenial yang menginjak masa yang namanya quartal life krisis.
Bingung memilih hidup seperti apa, bingung memilih jalan yang mana, bingung arah hidup dengan pencabangan yang serba memingungkan.
Awalnya saya tidak begitu percaya akan mengalami hal semacam ini. Dulunya saya terus membanggakan diri dan terus percaya diri dengan langkah yang saya ambil.
Tapi sekarang barulah muncul batang hidungnya. Barulah kebingungan demi kebingungan itu muncul dan selalu saja mematahkan jalan yang kupilih.
Ah sudahlah, ujungnya, saya hanya ingin mencari kebahagiaan versi diriku saat ini. Entah seperti apa akhirnya.