Mengartikan Kebahagiaan dari Sudut Pandang Stoik

Terlintas perkataan salah satu content creator Youtube yang digadang telah menerapkan pola pikir stoik selama bertahun-tahun.

Ketika kamu terbebas dari emosi negatif maka itulah kebahagiaan

Ferry Irwandi

Menarik, mendefinisikan kebahagiaan terjadi bukan ketika kita mendapatkan trigger kesenangan, melainkan ketika kita terbebas dari emosi negatif. It’s mean, kita bisa bahagia dengan sangat sederhana.

Dikala diri ini struggle mendefinisikan kebahagiaan, mencari arti kebahagiaan, mengejar kebahagiaan, tetiba disadarkan bahwa kebahagiaan itu tidak untuk dikejar.

Kebahagiaan itu ada pada diri kita, akan tetapi dia tertutup oleh sistem yang terbangun.

Selalu kita mendefinisikan bahagia itu ketika kita punya uang yang banyak. Bebas beli ini dan itu. Memiliki rumah di usia muda, bebas finansial, dan sebagainya.

Ternyata tidak.

Jelas saja, andai kata kebahagiaan dinobatkan oleh materi, mengapa masih saja banyak yang bunuh diri saat kejayaan mentereng pada diri.

Mengapa masih saja banyak yang berbuat keji, merampas hak bukan milik, padahal sudah diberi seluruh dunia padanya.

Bukan berarti, kebahagiaan juga dimiliki oleh mereka yang tak punya materi, sebab banyak juga terjadi kriminalitas yang didasarkan pada ekonomi.

Tidak, kebahagiaan tidak didefinisikan oleh materi, itu yang diucap oleh para stoik.

Kebahagiaan itu melekat pada diri, akan tetapi kita saja yang buta yang tak pernah menyadari.

Baru tersadari ketika emosi negatif menggerogoti diri.

Contoh kecilnya, kita yang saat ini, menginjak usia dewasa, pasti selalu terpikir, “Ah, enak yah andai bisa kembali ke masa kecil, yang tidak ada tuntutan ini itu, kerjanya cuma main, tidur, makan, ngerjain tugas, sekolah, dll”

Oke. Tapi, coba ingat lagi ketika masa kecil itu ada. Apakah kita sadar bahwa saat itu adalah saat kebahagiaan kita? Tentu tidak, saat itu mungkin kita berangan, “Ah, enak ya jadi orang dewasa, bisa cari uang, bisa beli ini dan itu,” ucap kita di masa kecil.

See? Kebahagiaan selama ini digantungkan oleh kalimat “Andai Saja”.

Coba kita bertanya kepada orang tua kita, yang umurnya jauh terpaut di atas kita. Tanyakan, saat apa masa-masa bahagianya?

Bisa ditebak, masa bahagia menurutnya justru saat muda, saat bisa bebas mengeksplorasi alam, mengembangkan diri, memperluas koneksi, dan sebagainya.

Mengapa? Karena saat kita berada di masa saat ini, Mata kita tertutupi kebahagiaan yang semestinya sudah kita rasakan.

Ya, kita sudah bahagia. Kita bahagia hampir setiap saat. Cuman belum disadari. Mungkin nanti, saat kita berada di level hidup yang berbeda.

Kamu bisa bekerja di kantor? Itulah kebahagiaan.

Kamu bekerja di lapangan? Itulah kebahagiaan.

Kamu bisa beli kopi dan menikmatinya? Itulah kebahagiaan.

Kamu bisa tidur di kasur yang empuk? Itulah kebahagiaan.

Kamu bisa berbicara dan berteman? Itulah kebahagiaan.

Kamu bisa melihat? Itulah kebahagiaan.

Pun, sekedar kamu bisa menikmati udara bersih? Itulah kebahagiaan.

Kamu bahagia ketika emosi negatif mereda

Anonim

Emosi negatif? Apa maksudnya?

Kebahagiaan akan sulit terlihat ketika diri dipenuhi emosi negatif.

Apa saja?

Iri hati, dengki, sombong, tidak bersyukur, dan segala penyakit hati lainnya. Itulah yang menurtupi kebahagiaan kita.

Mengapa kita susah bahagia? Simpel, karena kita selalu dengki, iri hati, dan tidak enak hati saat melihatorang lain lebih hebat dari kita.

Selalu saja membandingkan diri, lalu mencoba mengejar agar kita terlihat sukses di mata orang lain.

Itulah kesalahan kita, selalu ingin tampil di atas, untuk mengejar yang dinamakan kebahagiaan.

Padahal, kebahagiaan itu muncul ketika kita mencoba untuk menerima diri. Kebahagiaan kita justru tertutupi oleh emosi negatif itu.

Percuma susah payah mengejar, yang ada justru kebahagiaan malah semakin buram.

Maka, mencoba untuk belajar mengontrol emosi negatif pada diri, adalah upaya ntuk mendapatkan kebahagiaan sejati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top