Jangan pelit membeli ilmu

Hambatan manusia untuk berkembang adalah diri mereka sendiri.

Harus disadari, bahwa kita adalah makhluk ciptaan yang telah dikaruniai kesempurnaan dalam menjalani hidup. Kita telah diberikan kebebasan untuk bertindak, berpikir, serta menentukan mau seperti apa diri kita kedepannya.

Perihal masalah. Tentu, setiap hal memiliki masalah masing-masing. Namun, masalah diciptakan bukan untuk membuat diri kita lemah, menghindar, bahkan menyerah, melainkan masalah tercipta untuk menuntun kita menjadi pribadi yang terbentuk.

Setiap masalah, pasti memiliki jalan keluar masing masing-masing. Sesuai kata pepatah “ketika satu pintu tertutup, maka banyak pintu lain yang terbuka” tinggal diri kita mau beranjak mencari pintu terbuka, atau diam melihat pintu yang tertutup.

Namun mirisnya, kebanyakan dari kita ketika ditimpa masalah, kita malah keasyikan berkelumat di masalah tersebut. Sudah tahu pintunya tertutup, malah asyik nongkrong disana, mengharap dibukakan pintu, dan tidak mau berusaha mencari pintu terbuka.

Apa maksudnya?

Ketika saya menganalogikan ini kepada seseorang yang memiliki cita-cita. Banyak diantara mereka yang sudah tahu bahwa dalam menggapai cita-cita, harus banyak berkorban di dalamnya, tapi banyak diantara kita yang memilih untuk tidak berkorban, dan menunggu ada tangan ajaib yang menolongnya untuk bisa sukses tanpa berkorban.

Contohnya saja. Coba, saya ingin bertanya. Apa cita cita Anda? Jawab saja dalam hati.

Saya ingin menanyakan. Apa yang telah Anda korbankan untuk meraih cita-cita Anda itu? Ya silahkan jawab dalam hati.

Saya bertanya kembali. Beranikah Anda mengeluarkan harta benda yang Anda miliki saat ini, demi memperoleh cita-cita Anda yang belum tentu akan tercapai itu?

Beranikah Anda membayar mahal?

Mungkin diantara pembaca ada yang mengatakan. Ya, saya berani. Tapi betulkah? Apa buktinya.

Saya mengambil contoh, mungkin ada beberapa diantara kita yang ingin menjadi seorang youtuber. Nah, bagi kalian yang ingin menjadi seorang youtuber, sudah berapa harta yang berani Anda keluarkan untuk bekal menjadi youtuber? Sudah punya highlight? Tripod? Camera? Mic? Atau pernahkah Anda mengikuti pelatihan untuk menjadi seorang youtuber?

Mungkin dari pembaca ada yang mengatakan. “Ah, kan tidak semuanya harus dibeli, kan step by step bro”

Iya benar, step by step. Tapi step nya juga harus berjalan progresif. Jangan di step satu mulu.

“Tapi kan, tak semuanya harus di beli bro. Bermodalkan kamera hp dan laptop saja bisa kok” sanggahmu.

Iya benar, bisa bermodalkan kamera dan laptop. Tapi coba saya ingin tanya lagi. Yang menjadi pesaingmu jadi youtuber sekarang ada berapa? Dan kamu masih saja bermimpi menjadi teratas hanya dengan modal cetek?

Coba pikirkan, ada puluhan juta orang yang saat ini ingin menjadi youtuber juga, tapi lihat, ada berapa yang terekspos? Tidak banyak bukan? Ya karena mereka punya alatnya, mereka punya nilai lebih. Memang mereka juga mulai secara bertahap. Tapi mereka berprogres. Mereka juga banyak berkorban. sehingga pengorbanan tersebut menjadikan ia memiliki nilai lebih.

Saya adalah seorang yang menekuni dunia kepenulisan, tentu saja saya seringkali bertemu dengan calon penulis lainnya.

Fenomena yang kerap kali saya lihat adalah banyak diantara mereka yang bercita-cita ingin menjadi penulis, akan tetapi ketika diberikan peluang berupa seminar kepelatihan penulisan, banyak diantara mereka yang tidak ingin ikut. Alasannya karena berbayar, mahal, nunggu yang gratisan saja, ingin belajar otodidak saja, dan masih banyak alasan lain.

Tidak sedikit pula dari mereka yang telah menyelesaikan naskahnya, tapi belum mampu mengeditnya. Ketika ditawari ikut pelatihan editing. Mereka berkata. “Ah nggak dulu deh, berbayar kan? Pasti mahal. Mau edit sesuai kemampuan saya saja”

Banyak peluang yang mereka lewatkan karena terlalu banyak pikir untuk mengorbankan sesuatu demi cita-citanya tersebut.

Kawan, jangan pernah berharap akan mendapatkan kesuksesan jika kau sendiri tidak mau berkorban banyak untuknya.

Ingin tunggu yang gratisan misalkan, ya belum tentu ada. Toh pun jika ada, pasti kualitasnya mesti diragukan.

Ingin belajar otodidak misalkan, ya mau sampai kapan kamu mengandalkan dirimu sendiri? Bukan kah kita dituntut untuk memiliki seorang murabbi? Seorang guru? Secerdas apapun dirimu, kau tetap harus punya guru untuk membimbing mu.

Jangan seolah merasa hebat untuk dirimu sendiri, jangan pernah pelit berkorban atas cita-citamu sendiri, jangan ingin terus-terusan bermental gratisan.

Percayalah bahwa semua butuh timbal balik. Orang mengajarkan ilmu itu tidak gratis, justru menurut saya sang pembeli sangat diuntungkan. Mengapa? Karena yang dibeli bukan hanya ilmu, melainkan waktu dan pengalaman si pemberi ilmu tersebut.

Memang, kita dituntut untuk ikhlas dalam berbagi ilmu. Namun, kita juga harus realistis. Bahwa orang lain juga mengorbankan sesuatu demi mendapat ilmu tersebut. Masa kamu pengen enaknya doang. Ya gak fair dong.

Janganlah pelit atas dirimu sendiri, apalagi demi untuk masa depanmu. Percayalah bahwa apa yang kau korbankan saat ini adalah apa yang akan menjadi hasil baik nantinya.

Sesuai dengan pepatah yang mengatakan. “Apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai”

Sederhananya, jika kau ingin menikmati buah yang berkualitas. Maka kau harus berani membeli benih yang berkualitas.

Jika kau menanam benih yang biasa saja, maka hasilnya pun akan biasa saja. Sebaliknya, jika kau menanam benih yang berkualitas, maka hasilnya pun berkualitas.

Terimakasih…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top