Rumus 5 detik

Mell Robbins pernah berkata,

“kamu bukanlah seorang penunda, tapi kamu hanya punya kebiasaan menunda”

Ada sebuah video yang pernah saya lihat di youtube, memuat tentang bagaimana cara agar rasa malas dapat berubah menjadi keinginan untuk berbuat hal yang bermanfaat atau produktif. dalam video tersebut terlihat seseorang wanita tengah diwawancarai atas pengalamannya yang dulu menjadi orang yang gagal karena rasa malasnya, menjadi orang yang beruntung karena sifat produktifnya.

Ketika ditanya mengapa hidupnya bisa berubah se-signifikan itu. Ia kemudian menjawab. Ia pernah dalam suatu hari sedang bermalas-malasan dan memilih untuk menonton tv. Lalu kemudian, dalam tayangan tv tersebut, ia melihat sebuah roket yang meluncur ke udara hanya dengan hitungan 5 detik.

Dalam benaknya, ia berpikir. “kok bisa ya, roket sebesar itu meluncur hanya dalam hitungan 5 detik? Padahal roket itu memiliki berat yang beratus-ratus ton” lalu kemudian ia menganalogikan roket itu sebagai dirinya. Ya dirinya. Ia berpikir apakah dirinya bisa langsung bergerak meluncur dari rasa malasnya ke kegiatan produktif hanya dengan 5 detik seperti yang terjadi pada roket bermuatan ratusan ton tersebut.

Ia melakukan percobaan. Dikala ia merasakan malas padahal ada banyak pekerjaan yang harusnya ia selesaikan, ia mencoba untuk memakai rumus 5 detik itu. ia memberikan waktu pada dirinya dengan sangat singkat agar bisa beraiih dari mode malas ke mode produktif dengan sangat cepat. Dan benar saja. Ia berhasil melakukannya. Perempuan itu bernama Mel Robbins, seorang pencetus “aturan 5 detik”.

Pertanyaan muncul. Kok bisa hanya dengan aturan 5 detik kita mengubah mode malas menjadi mode produktif?

Jawaban sederhana saya begini. Coba deh ingat-ingat, masa dimana kamu merasa malas yang tak berujung, padahal ada banyak hal yang harus kamu kerjakan. Tugas kampus, bertemu dengan client bisnis, memberi makan ternak, dll.

Coba ingat-ingat, apa yang kau rasakan saat dirimu merasa ingin melakukan sesuatu, tapi badanmu berkata, “ah, nanti saja dulu”. Kira-kira apa yang melatarbelakangi penundaan tersebut?

Rasa stress, kecemasan, dan ketakutan. Ya, kupikir hal semacam itulah yang menyebabkan kita malas dan menunda pekerjaan. Misalkan, kita lagi dapat tugas kampus dari seorang dosen, taruhlah misalkan tugas itu adalah tugas membuat makalah besar, yang pengerjaannya harus melakukan wawancara di berbagai tempat. Coba deh, membayangkan saja rasanya sangat berat kan? Nah itu dia. Itu yang menjadi sumber masalahnya. Karena kebanyakan membayangkan itu, karena kebanyakan pikiran yang terus membayangi, kita akhirnya jadi menunda. Karena kita cemas, kita seolah tak mau merasakan penderitaan dan kerepotan dalam mengerjakan tugas tersebut.

Nah jika kita memakai aturan 5 detik ini, maka kita cukup membatasi pikiran kita untuk melayang kemana-mana dalam waktu yang cukup singkat. Misalkan, saya ada tugas makalah besar, harus melakukan wawancara. Okey, mungkin saya akan berpikir bahwa hal itu akan berat. Tapi dengan aturan 5 detik tadi, artinya saya telah membatasi pikiran-pikiran kecemasan itu dengan langsung menggantinya menjadi sebuah tindakan.

5…4…3…2…1… kerjakan!!!

Dengan menerapkan aturan 5 detik ini. Alhasil, bukannya kita menjadi overthinking, kita langsung berhadapan dengan masalahnya secara langsung. Dan ajaibnya, kita akan merasakan bahwa ketakutan-ketakutan yang ada dalam pikiran kita tadi, itu sebenarnya hanya ilusi yang kita ciptakan sendiri untuk menahan diri kita bergerak.

Hal ini telah saya buktikan sendiri di banyak hal. Pernah suatu waktu, kamar saya sangat berantakan. Saya sadar bahwa saya harus membereskannya. Namun, pada waktu itu rasa malas saya sangat tinggi. Saya selalu berdalih, “Ah, nanti saja lah, rasanya repot untuk mengambil sapu lalu membereskan semua”.

Menyadari bahwa saya mengalami yang namanya penundaan, saya langsung menerapkan aturan 5 detik itu. dan benar saja. seketika saya menghitung 5… 4… 3… 2… 1… meluncurrr… saya langsung memaksa diri untuk bergerak, mengambil sapu, lalu membereskan semuanya. Dan selesai. Tidak ada rasa repot sedikitpun, yang ada hanya rasa lega.

Kawanku, senada dengan apa yang dikatakan oleh Mell Robbins, bahwa kamu bukanlah seorang penunda, melainkan kamu hanya punya kebiasaan menunda. Kamu bukanlah seorang pemalas, melainkan kamu hanya punya kebiasaan malas. Hilangkan kebiasaan malas itu dengan menyadarinya terlebih dahulu. Lalu terapkan aturan 5 detik.

Caranya? Hanya ada tiga.

Pertama, kau harus menyadari bahwa dirimu berada dalam mode malas, padahal ada banyak hal yang harus kamu lakukan.

Keduan, niatkan untuk beralih dari mode malas ke mode produktif, lalu berhitung dengan suara atau dalam hati 5… 4… 3… 2… 1…

Ketiga, tepat di angka satu. Langsung bergerak tinggalkan tempatmu saat itu, entah kemana, pokoknya tinggalkan saja tempat itu. Dan langsung melakukan apa yang harus kau kerjakan. Tanpa pikir panjang.

Selamat mencoba, dan terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top