Amarah Bisa Membunuhmu!

Amarah adalah bagian dari emosi, emosi adalah hal yang wajar dimiliki oleh setiap insan.

Tidak ada yang bisa menghilangkan emosi. Namun, emosi sangat bisa untuk dikendalikan, bagaimana pun bentuknya.

Dalam sebuah buku yang berjudul “Filosofi Teras” by Henry Manampiring, disebutkan bahwa emosi dipengaruhi oleh bagaimana respon seseorang terhadap sesuatu.

Dijelaskan pula dalam buku tersebut bahwa kita, senantiasa selalu bertingkah berlebihan alias lebay dalam menanggapi segala sesuatu.

Dan, bertingkah lebay itulah yang membuat kita menjadi kewalahan dalam menghadapi emosi.

Dalam artian, kita sendiri yang melebihkan, kita sendiri yang dapat getahnya.

Misalnya, ada gebetan yang salah sebut nama (dan kebetulan nama yang disebut adalah mantannya). Respons kita pada gebetan tersebut pada umumnya pasti merasa si gebetan ini belum move on atau mungkin masih ingin menjalin hubungan lagi dengan mantannya.

Alhasil, respons yang dibuat oleh diri sendiri menjadikan diri sakit hati, penuh amarah, penuh emosi, hingga akhirnya menjauh dari si gebetan tadi.

Padahal, itu hanyalah persepsi yang dibuat oleh si pemikir sendiri, Dan, persepsi itulah yang membuat dia menjadi emosi sendiri. Bahkan, emosi yang berlebihan.

Respons itulah yang disebut lebay. Melebih-lebihkan segala sesuatu (yang pada nyatanya tidak demikian) sampai akhirnya menyakiti diri sendiri.

Ada sebuah cerita yang baru saja saya baca di Quora. Berikut kisahnya.

Ada seekor ular yang masuk dalam sebuah toko mencari makanan. Ular itu menyusup melalui sela-sela bocoran yang ada di toko tersebut.

Ular itu masuk dan menyelinap mencari makan karena ia begitu lapar.

Saat menggeledah, ular tersebut tak sengaja menjatuhkan kapak dan akhirnya mengenai tubuhnya.

Ular tersebut sedikit luka akibat timpaan kapak tadi, karena merasa terganggu, ia marah dengan kapak tersebut dan langsung menggigit mata kapaknya.

Saat menggigit mata kapaknya, ia pun semakin terluka karena tergores oleh mata kapak tersebut.

Namun, karena dirinya merasa lebih hebat dari kapak tersebut, ia pun langsung melilitkan seluruh tubuhnya ke kapak tersebut dengan niat ingin menyakitinya kembali. Ya, ular itu dendam dan emosi sendiri.

Padahal, hal yang baru saja ia lakukan justru mencelakakan dirinya sendiri.

Ya, semakin keras ia melilitkan tubuhnya, dirinya semakin terluka. Sampai akhirnya ular tersebut pun mati.

Kawanku, apa yang bisa kita ambil kesimpulan dari kisah tersebut?

Kira-kira, siapa yang membunuh ular tersebut? Apakah kapak yang merupakan benda mati itu yang membunuhnya?

Tidak.

Justru, yang membunuh ular tersebut adalah amarahnya sendiri, emosinya.

Andai saja, ular tersebut mengindahkan lebih awal dan melanjutkan misinya malam itu untuk mencari makan, ia pasti tidak akan mati.

Ia akan kenyang karena mendapatkan makan malam yang puas.

Namun, karena amarahnya yang meluap, sehingga ia tidak bisa berpikir jernih dan justru terbunuh oleh emosinya sendiri.

Andai saja, ia merespons dengan tepat. Ia mengambil jeda untuk berpikir, mana mungkin ia melakukan hal bodoh tersebut.

Semua, karena amarah yang meluap-luap.

Kawanku, kisah ini bisa kita jadikan bahan renungan.

Begitu banyak dari kita yang tercerai-berai karena emosi belaka.

Begitu banyak dari kita yang memutus tali silaturahim karena emosi belaka.

Begitu banyak ktia mengambil keputusan bodoh karena emosi belaka.

Padahal, emosi bisa kita kendalikan jika kita ingin berpikir jernih. Mengambil jeda sejenak ketika dilanda amarah bisa menyelamatkan.

Misalnya, mengalah ketika saling adu mulut dengan tetangga, tidak akan menjadikan diri kita hina. Tidak. Itu pemikiran kuno.

Justru, dengan kita terus berdebat saling adu emosi dengan seseorang, justru akan membuat diri kita masing-masing menjadi hina.

Hina, karena dikendalikan oleh emosi sendiri dan tidak memanfaatkan akal sehat.

Olehnya, sebagai penutup tulisan ini. Saya ingin berpesan kepada diri sendiri dan juga kepada kita semua.

Perihal emosi, amarah, memang itu hal manusiawi.

Namun, tidak berarti kita harus pasrah dan terbawa dengan emosi yang justru akan menyengsarakan kita jangka panjang.

Ambil langkah mundur, terapkan jeda sejenak, berpikir mendalam, berpikir jernih, maka kamu akan selamat.

DISCLAIMER: moon maaf jika tulisan ini agak sedikit berantakan, hehe. Semoga kita semua mendapat pembelajaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top