Suatu malam, saya tengah duduk termenung di kamar sederhana, membiarkan pikiran saya lepas beterbangan entah kemana. Kata orang sebuah inspirasi akan datang ketika pikiran dibebaskan kian kesana kemari. Saat itu memang saya niatkan untuk mencari inspirasi dengan memperhatikan benda-benda disekelilingku.
Kuseruput air kopi yang mendekati ampas, menarik nafas, dan mencoba untuk menatap disekeliling. Kulepaskan setiap benda yang mengganggu pikiran. Entah itu gadget, laptop, dan segalanya. Kufokuskan mata dan pikiran untuk menatap benda di sekeliling. Saat itu lampu kamar kumatikan dan yang menerangi ruangan hanyalah lampu tidur yang remang-remang.
Sejenak kuperhatikan benda itu, terpikir olehku bahwa “Bagaimana bisa benda kecil ini bisa membantuku banyak untuk melihat? Padahal cahayanya juga sangat redup.. akan tetapi sungguh, pengaruhnya luar biasa dibanding lampu besar akan tetapi tak bercahaya”. Tak lepas dari khayalan tadi, lantas berpindahlah arah pandang ku ke benda yang lain. Saat itu kebetulan tertuju pada sebuah pena yang tintanya tinggal secuil lagi, pikirku dengan tinta secuil ini, ia bisa membuat goresan kata yang bisa menginspirasi ribuan pembaca jika digunakan dengan baik, dibandingkan pena yang dipenuhi tinta sedang ia terlantar tak terpakai.
Luas lah pandangku kala itu, mengerti bahwa yang kecil bukan berarti tak ternilai, yang kecil bukan berarti tak bermakna, yang kecil bukan berarti tak berpengaruh. Bukankah semua hal yang besar berawal dari yang kecil?
Jika ditarik kedalam keseharian manusia, pandangan kita terlalu sempit akan hal yang kecil. Terlalu sering kita menganggap remeh hal-hal yang kecil. Uang koin senilai Rp500 sering kali kutemukan tergeletak di jalan dan orang-orang hanya lalu lalang menginjaknya, tak jarang juga kutemukan orang yang tengah kejatuhan koinnya di khalayak ramai, enggan untuk memungutnya lantaran malu karena nilai koinnya yang kecil.
Pantaskah kita meremehkan hal kecil?
jika ditarik dalam perilaku, pandangan kita terlalu sempit akan hal kecil. kerap kali perbuatan-perbuatan yang mungkin mengakibat dosa yang kecil sering kali dianggap biasa-biasa saja. sering berbohong lantaran berkata itu hanya dosa kecil, akan tetapi tak sampai pikir bahwa yang kecil bila diteruskan akan jadi yang besar.
Jika ditarik kedalam pekerjaan manusia, pandangan kita terlalu sempit akan hal kecil. Terlalu sering menganggap remeh pekerjaan-pekerjaan kecil. Sering kali saya melihat manusia yang pekerjaannya seperti petani, nelayan, tukang sapu jalan, tukang batu, dan tukang sampah terkadang banyak yang (maaf) meremehkan mereka. Menganggap bahwa pekerjaan mereka (maaf lagi) kotor, tak elegan, tak mapan, dll.
Sungguh, saya sendiri bingung, sebenarnya apa patokan bagi orang yang menganggap pekerjaan itu pantas disebut baik, elegan, mapan? apakah alat ukur pekerjaan “Layak” itu adalah uang? Jika jawabmu YA, selamat logika mu telah cacat. Dan kau tak mengerti arti hidup yang sebenarnya. Dan dirimu termasuk penyembah kertas.
“Tapikan dijaman sekarang, semua butuh uang?” katamu.
Ya, memang betul semua butuh uang. Akan tetapi yang paling menjadi dasar kebutuhan manusia bukan uang, akan tetapi kebahagiaan. Jika pikirmu kebahagiaan datang dari uang, mungkin dirimu belum merasakan kebahagiaan yang datang karena manfaat.
Nasihat pernah berkata “Siapapun kamu, jadilah mata air yang kelak akan menjernihkan air keruh disekitarmu”.
Jangan pernah meremehkan hal sekecil apapun. Baik kecil maupun besar, Jika ia bermanfaat maka ia layak disebut baik. Pun sebaliknya baik kecil maupun besar, jika ia tak bermanfaat, dan hanya mengejar materi saja maka tak layaklah disebut baik.
Jadilah apapun itu, asal bermanfaat.. dan jangan pernah untuk meremehkan hal kecil apapun. karena meremehkan hal kecil sama artinya dengan menolak peluang besar. bukankah semua pada awalnya berawa dari yang kecil?
mari renungkan.
Salam produktif!
Salam kebijaksanaan!