HANYA ADA 2 PILIHAN

Saya memiliki seorang teman yang cukup terstruktur orangnya. Kita termasuk teman yang akrab, selalu nongkrong dan bersendagurau bersama, saya melihat kepribadiannya cukup bagus, setiap apa yang di ucapkan terlihat lebih rapi, orangnya pun juga telihat rapi. Dia pernah bercerita bahwa setiap pagi sebelum ia melakukan sebuah aktivitas ke kampus atau kemanapun ia pasti menuliskan sebuah rencana kegiatannya selama 1 hari penuh lengkap dengan waktunya. Waktu mandi, sarapan, shalat, main, belajar, semua dia tulis lengkap dengan waktunya. Lalu saya bertanya “Apakah dengan jadwal mu yang terstruktur itu kau melakukan semuanya tepat waktu?” dia menjawab awal dia memulai kebiasaan menjadwalkan kegiatannya itu, dia sangat patuh dengan apa yang dia tulis, akan tetapi seperti yang dikatakan sebuah gurauan lama, “Manusia itu motivasinya Cuma panas-panas tai ayam” sekarang apa yang dia tulispun hanya sebagian kecil yang ia laksanakan, motivasinya sudah berkurang, saya pun bingung ketika melihat seisi kamarnya dipenuhi dengan buku motivasi yang menumpuk masa dia masih kekurangan motivasi. Satu penyebabnya. Yaitu, dia bosan.

Disetiap kali dia ingin mengikuti apa yang dijadwalnya tertulis pasti dia berkata “ahh nanti aja, masih ada waktu” alasan itu terus yang ia ulangi sampai akhirnya deadline sudah sampai dan waktu malam sudah tiba, dia menyadari hal itu, dan saking ia sadar ia berkata lagi, “wah ini kan hanya secercah jadwal, besok pun aku segera membuatnya kembali dan barangkali aku bisa melakukannya besok, besok mungkin cuaca lebih baik dari hari ini”. Apa yang muncul dibenak pembaca?

Saya menilai bahwa kebiasaan yang ia bangun untuk menuliskan jadwal hariannya sudah merupakan kebiasaan yang baik,  akan tetapi motivasi dia untuk melakukan apa yang ia tulis itu yang berangsur-angsur lenyap. Dia menyadari bahwa dia sudah cukup baik untuk menjadwalkan hari, sampai sampai dia menganggap sepele akan jadwal itu. Dalam arti tak ada paksaan untuk melakukan. Kekalahan yang saya rasakan baginya adalah ia terlalu menganggap sepele dan selalu beralasan.

Saya juga salah seorang pegiat pembaca buku motivasi. Dan memang betul, semua buku motivasi untuk hidup produktif selalu menyarankan untuk menuliskan dan merencanakan jadwal harian sebelum kita bepergian. Akan tetapi tak banyak buku yang mengajarkan bagaimana cara untuk konsisten melakukan apa yang direncakanan.

Lalu bagaimana cara untuk konsisten menjalankan apa yang telah diputukan?

Gampang. Ketika berdasar dengan apa yang teman saya tadi lakukan. Kita melihat benang merah terhadap masalah serius yang selalu membuatnya gagal. Ya saya katakan ini masalah serius. Karena ini bisa menjadi candu buat yang terjebak didalamnya. Yaitu “SELALU BERALASAN”.

Dalam sebuah buku International BestSeller yang berjudul “The Answer : How to Take Charge of Your Life & Become the Person You Want to Be” yang ditulis berdasarkan kisah nyata oleh Allan & Barbara Pease, di salah satu bab tertulis ketika kita usai menuliskan apa yang kita putuskan maka tak ada lagi yang perlu di tunggu selain untuk melakukan apa yang telah ditulis. Kebanyakan orang terlalu sering dan tenggelam dalam fananya rencana yang dibuat tanpa dilakukan aksi/tindakan. Persis dengan apa yang telah dialami oleh teman saya. Tenggelam dalam perencanaan dan selalu mengada-ada alasan untuk menundanya, entah itu alasan untuk menunda dalam sejam, dua jam, sehabis makan, sehabis istirahat, besok atau lusa. Itu adalah sebuah Alasan yang harus kita musnahkan. Terkadang kita tidak menyadari bahwa kita telah membuat alasan, meskipun alasan yang terlihat sepele tapi hal yang sepele itulah yang membuat rencana yang sudah kita persiapkan hanya menjadi sebuah tulisan yang tak bermakna.

Hanya ada 2 pilihan. “Membuat kemajuan atau membuat alasan”

Selepas menuliskan apa yang ditulis langsung laksanakan. Bukan besok, atau nanti, tapi sekarang. Lakukan sesuai apa yang kau tentukan. Jika kau menuliskan saya akan menemui orang sehabis saya makan. Maka lakukan itu. Sehabis makan jangan lagi melakukan hal lain dan mencandui berbagai alasan yang menjebak.Bagi penulis, bukan motivasi lagi yang perlu di tumbuhkan, karena memang motivasi itu “panas-panas tai ayam” hanya tindakan tanpa alasan menunda yang dapat mengalahkan kemalasan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top