Akhir-akhir ini saya merasa lelah, pikiran sedang kalang kabut, ada banyak hal tak terduga yang datang secara beruntun.
Berkali-kali saya merasa butuh istirahat, padahal waktu istirahat pun terasa cukup tapi masih saja merasa lelah.
Saya bertemu sebuah video di YT yang menjelaskan bahwa sejatinya istirahat itu ada dua caranya. Istirahat fisik untuk mengistirahatkan seluruh anggota tubuh dan istirahat mental untuk mengistirahatkan pikiran dan mental.
Saya pun tersadar, sepertinya ini yang selama ini jarang saya lakukan. Selalu menyempatkan waktu untuk beristirahat fisik tapi mental dan pikiran masih terus dicecari oleh berbagai macam hal.
Hari ini, saya mulai mengistirahatkan mental, salah satu cara adalah dengan rehat media sosial.
Ada banyak video yang telah saya nonton menjelaskan bahwa salah satu kebiasaan yang sangat menguras mental dan pikiran secara tak sadar adalah media sosial.
Ya, media sosial…
Dijelaskan bahwa otak kita sejatinya butuh istirahat, tapi sosial media tak akan pernah memberikan otak kita sedikit celah untuk bernafas.
Terlalu banyak informasi yang sejatinya tidak terlalu penting untuk kita konsumsi. Terlalu banyak kabar yang membuat emosi naik turun. Terlalu banyak hal yang membuat kita merasa tak percaya diri. Bahkan, terlalu banyak hal yang bisa menyetir diri kita.
Fenomena dampak media sosial ini sebenarnya sudah terang-terangan dijelaskan di salah satu film dokumenter berjudul “The Social Dilema”. Dijelaskan bahwa kecanduan media sosial bahkan lebih buruk daripada kecanduan narkoba.
Tapi kita tak bisa naif, sosial media kini menjadi satu dalam kehidupan kita. Dunia maya dan dunia nyata seakan tak ada lagi bedanya.
“Kamu kok gak story-in aku? Kamu gak anggap aku teman lagi?” salah satu ungkapan yang menjelaskan bahwa betapa tak adanya batas antara maya dan realita.
Padahal, kalau dipikir, tidak memasukkan orang ke Story Instagram kita bukan berarti kita membencinya. Tapi orang sudah menganggap bahwa “story” adalah standar pengakuan.
Ya, memang begini adanya, sudah mendarah daging, jika ke depan ada perubahan, mungkin dibutuhkan sebuah revolusi.
Tapi kembali lagi, kembali ke topik perbincangan. Istirahat mental.
Ya, saya pun tersadar bahwa istirahat saya selama ini hanyalah istirahat fisik. Di mana istirahat fisik saya kulakukan dengan scrolling sosial media sampai berjam-jam.
Saya pun kala itu merasa “cukup” untuk istirahat fisik, tapi masih saja merasa lelah.
Mungkin itu jawabannya. Mental saya yang lelah, bukan fisik saya.
Maka dari itu, saya putuskan untuk rehat sosial media secara bertahap. Mulai dari sehari tak membuka sosial media, dilanjutkan dengan tiga hari, lima hari, dan seterusnya. Sampai diri ini merasa cukup untuk mengistirahatkan mental.
Challenge no sosial media, dimulai.