Baru saja aku melihat sebuah tayangan Youtube yang menjelaskan tentang hakikat kita sebagai manusia.
Ya, nama Channelnya “Ferry Irwandi” kamu juga bisa langsung nonton di sini.
Dalam video tersebut, Ferry menjelaskan tentang bagaimana kita, secara realistis, adalah makhluk yang memiliki keterbatasan.
Masalahnya, saat ini, kita seolah dicecari tuntutan yang mengatakan kita harus menjadi manusia SEMPURNA.
Sempurna dalam hal materi, rupa, dan juga nasib.
Mari kita lihat, standar kehidupan yang dibentuk oleh media sosial. Di umur 25 kamu harus punya finansial stable. Di umur 30 kamu harus sudah sukses, punya rumah sebesar istana, dan masih banyak tuntutan lain.
Kita dibuat seolah harus menjadi bisa segalanya. Menjadi manusia super.
Aku ingin bertanya, dan kumohon, kamu menjawabnya untuk dirimu sendiri. Realistis kah semua ini? Apa itu tujuan hidup sebenarnya? Menjadi yang paling terdepan dan selalu berada di puncak?
Tapi, ini jawabanku, mungkin berbeda dengan jawabanmu. Kurasa, TIDAK.
Kita tidak dibentuk untuk menjadi seorang yang sempurna dengan keharusan mencapai segala standar kelayakan yang beredar di media sosial.
Kita hanya perlu bahagia. Dan, kurasa bahagia tidak selamanya tentang materi. Sekali lagi, ini menurutku.
Mari kujelaskan alasannya…
Jika memang benar, materi adalah sumber kebahagiaan, mengapa masih banyak di luar sana orang yang kaya materi tetapi berakhir bunuh diri?
Jika memang benar, materi adalah sumber kebahagiaan, mengapa masih banyak di luar sana orang yang sudah memiliki jabatan tinggi, gaji tiap bulan 3 digit, tapi belum merasa cukup?
Jika memang benar, materi adalah sumber kebahagiaan, mengapa para pejabat yang tentunya sudah terjamin materinya, masih saja mengambil hak orang lain?
Namun, bukan berarti aku naif mengatakan bahwa materi tidak dibutuhkan.
Aku rasa, materi itu memang perlu, tetapi materi tidak ada sangkut-pautnya dengan kebahagiaan.
Aku berani berkata, aku bisa saja merasakan bahagia meski dalam keadaan materi yang serba terbatas. Aku juga bisa merasakan bahagia meski dalam keadaan materi yang melimpah.
Di sini, aku mau mengatakan, bahwa materi dan kebahagiaan itu dua entitas yang berbeda.
Namun, kembali ke pembahasan awal. Kita tidak harus menjadi sempurna.
Tuhan menciptakan kita, tidak untuk menjadi orang yang sempurna.
Tuhan, menciptakan kita, diharap untuk menjadi orang yang memberi manfaat di muka bumi, menjadi hamba yang senantiasa beribadah. Itu jelas ada di Al-Qur’an.
Aku, kamu, mereka, adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan.
Aku juga tidak sepakat jika seorang motivator mengatakan bahwa kita bisa melakukan dan menjadi segalanya.
Tidak, kupikir, jika kamu bisa jago dalam hal lain, aku mungkin tidak harus jago dalam hal tersebut. Mungkin aku jago dalam hal lainnya lagi. Maka dengan itu, kamu dan aku bisa saling terhubung dan membantu sehingga membentuk kesempurnaan.
Justru, perbedaan kemampuan kita lah yang menjadikan kita sempurna. Kita memang tak bisa hidup sendirian karena kita tak bisa sempurna jika sendirian.
Kita bisa sempurna jika bersama. Maka begitulah pelangi terlihat sempurna jika bersama dengan warna-warna lain.
Terima dan sadari keterbatasan. Kita bukanlah manusia sempurna. Tapi, kita bisa menjadi sempurna jika bersama.
Kamu tidak perlu cemas dengan tuntutan-tuntutan yang ada. Sebab, kita memang tak bisa dan tak akan pernah bisa memenuhi itu semua.
Sebab, kita bukan manusia super.
Pesanku, mari kita fokus mengenali diri sendiri. Mari kita fokus menggali potensi diri. Mari menutup telinga untuk berbagai tuntutan yang realistis. Mari membuka mata untuk hal yang realistis dan kita enjoy dalam menjalaninya.
Kita ini, hidup, untuk merasa bahagia dengan kendali diri kita. Bukan memaksa bahagia dengan kendali orang lain.