suatu hari saya berbincang dengan seorang sahabat. Orang itu memiliki ciri pantang menyerah, terkadang keras kepala, tapi untungnya ia selalu berbuat baik dan lurus. Kala itu kita berdiksusi tentang efektivitas berdemo dikala kebijakan pemerintah menjadi duri bagi Negara. Ia pernah berkata, “Hakikat pertumbuhan ialah perlawanan. Kalau tidak melawan, kita tak akan tumbuh!”.
Agak nyentrik memang, kita tidak terbiasa dengan kata “lawan” dipikiran kita, kita selalu mendeskreditkan seolah-olah melawan itu adalah hal yang tidak baik. Mindset kita sudah tertanam bahwa melakukan perlawanan itu identik dengan kekerasan, kerusakan, atau keonaran. Padahal, berlum tentu demikian.
Sebenarnya, maksud dari kata “Lawan” disini bukanlah seliar pemaknaan yang selalu disinggung orang-orang. Pemaknaan lawan disini tidak semerta-merta menjadi pemberontak atas ketetapan yang ada. Jujur, awal saya mendengarnya saya pun berpikir, “Ah, masa sih kalau ingin perubahan harus melawan. Bukannya melawan itu hal yang banyak tidak disukai orang? Terkesan anarkis? Dan membuat banyak kerusakan?”.
Ternyata tidak selamanya demikian. Mengapa? Begini ceritanya…
Mari kita sejenak nostalgia pada sejarah bangsa kita.
Pada masa tahun 97-98, terjadi ketidakstabilan ekonomi di Negara Indonesia, dimasa itu krisis ekonomi terjadi, harga bahan pokok melambung tinggi, pemerintah penuh dengan kasus korupsi, belum lagi dengan kebijakan presiden yang bersifat otoriter. Coba bayangkan, bukankah hal itu sangat menjengkelkan bukan? Pemerintah bilang A kita harus bertindak A, mau itu pemerintah bergerak demi kepentingan pribadi atau kepentingan rakyat, tak peduli, pokoknya bilang A ya harus A. coba saya tanya, apakah hal itu bisa memberikan kemajuan? Mungkin bisa, jika pemerintahnya benar-benar bekerja untuk kepentingan umum, kalau tidak? ya wallahu’alam.
Maka berkumpullah orang-orang saat itu, baik dari golongan mahasiswa, buruh, dan rakyat biasa untuk melakukan sebuah perlawanan untuk menggulingkan pemerintah yang dirasa tidak pro atas rakyat. Dan akhirnya, atas perlawanan yang dilakukan, maka berhasillah pemerintah saat itu digulingkan dan beralih ke pemerintah yang baru, yakni orde baru berganti ke orde reformasi. Hasilnya? Membaiklah pertumbuhan negeri pada saat itu.
Begitulah hakikatnya perlawanan demi perubahan. Ya, memang agak kurang sreg terdengar. Bahwa perlawanan itu memang identik dengan kekerasan. Akan tetapi, marilah sejenak memperluas pandangan. Kita analogikan perlawanan ini kepada hal-hal yang positif.
Mari kita mempermudah dengan memberi analogi ke kehidupan kita sehari-hari. Dikisahkan ada seorang anak muda yang pemalas. Ia tak mau belajar, kerjanya hanya bermain game, dan melakukan kegiatan suka-sukanya saja. Alhasil, nilai-nilai raportnya merah, ia bahkan terancam untuk tidak naik kelas. Kemalasannya bermula karena memilih pergaulan yang salah. Lantas, orangtuanya pun serasa sudah tak sanggup lagi mengurusnya.
Mendapat peringatan ancaman tidak naik kelas oleh gurunya, ia tak lantas mengindahkan hal itu, dianggap bodo amatlah nasihat-nasihat yang sering dilontarkan oleh orangtuanya. Hingga suatu hari, ketika ujian kenaikan kelas tiba, dan raport catatan 1 tahun diterima. Ia kaget, sekaligus malu. Tercatat dalam raport itu bahwa ia dinyatakan tidak naik kelas. Barukah kemudian ia menyesali perbuatannya.
Sebab rasa sesal itu, ia kemudian bertekad untuk merubah kebiasaan lamanya. Namun, sungguh tak mudah mengubah kebiasaan itu, ia beberapa kali tetap terjebak dalam kebiasaan lamanya. Bermalas-malasan, main game, tidak mengerjakan tugas, dll. Hingga Ia tersadar beberapa kalinya. Ia lantas bertekad untuk mengubah kebiasaannya itu. Ya, satu-satunya cara adalah melawan kebiasaan buruk tersebut.
Mula-mula ia harus melawan mindsetnya yang selalu ingin menunda-nunda kegiatan, lalu melawan nafsunya untuk terus-menerus bermain game dan bergaul sampai larut malam, ia juga harus melawan kemalasanya untuk bangun pagi dan rutin belajar. Memang tak mudah, tapi dengan perlawanan itu ia perlahan berubah. Sedikit demi sedikit, sampai menjadi sebuah kebiasaan baik.
Perubahan itu hakikatnya sudah pasti melakukan perlawanan, sekecil apapun itu. contoh saja buah mangga. Kita mungkin tak sadar, ketika buah mangga itu bertumbuh dan bertambah besar, sejatinya ia telah terjadi perlawanan didalam buah itu sendiri. Ya, perlawanan antara bentuknya dan tekanan udara disekelilingnya. Ketika sedikit saja ia bertumbuh, maka ia telah melakukan perlawanan terhadap perebutan volume ruang antara udara dan bentuknya.
Ketika kita ingin menggeser sebuah lemari, kita tentu perlu melakukan perlawanan padanya, yakni perlawanan antara tenaga kita dan berat yang ada pada lemari itu. jika kita tak memberikan perlawanan tenaga, atau hanya sedikit saja tenaga yang diberikan, maka mustahil lah lemari itu akan bergeser.
Ketika ada seorang yang ingin berbuat jahat misalkan, pasti dalam batinnya akan terus terjadi perlawanan antara si hati dan si nafsu. Si hati berkata, “Jangan berbuat jahat pada orang itu” namun Si nafsu berkata, “Ah, sudah, lakukan saja”. lalu, seperti apa orang itu bertindak, ditentukan siapa yang menjadi pemenang antara perlawanan nafsu dan hati.
Itulah sejatinya perlawanan. Perlawanan kepada hal yang negatif menuju kearah yang positif adalah perlawanan menuju pertumbuhan.
Kawanku, marilah kita untuk terus menerus melawan. Dalam artian melawan hal-hal yang dirasa merugikan diri lalu menggantinya dengan hal-hal yang baik. Keburukan itu harus dilawan, nafsu itu harus dilawan, kejahatan itu juga harus dilawan. Intinya semua hal yang kurang baik, harus dilawan agar kita menjadi baik.
Berkeras kepala lah untuk hal-hal yang baik. Mau sampai kapan kebaikan terus tertindas oleh kejahatan? Kupikir, menjadi lunak tak akan mengubah apa-apa. Karena semua butuh perlawanan.
“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, hendaklah dia merubah hal itu dengan lisannya. Apabila tidak mampu lagi, hendaknya dia ingkari dengan hatinya dan inilah selemah-lemah iman.”
(HR. Muslim no. 49)