Kerja Keras, Disiplin, Konsisten, Persisten

Sudah banyak buku yang saya baca tentang kesuksesan. Ada 3 kata kunci khusus yang saya dapatkan ketika mendengar kunci dari kekayaan dan kesuksesan, yakni kerja keras, disiplin, konsisten, dan persisten.

Mari kita bahas satu per satu.

Kerja Keras.

Bare minimum untuk menuju kesuksesan dan kekayaan adalah kerja keras. Tidak ada hasil yang mulia tanpa kerja keras.

Kerja keras di sini artinya, Anda tekun memiliki daya juang yang tinggi, dan rela melakukan pekerjaan itu melebihi rata-rata orang melakukannya.

Kerja keras untuk setiap individu porsinya tentu berbeda. Tidak perlu membandingkan kerja kerasmu dengan yang lain, tapi yang perlu kamu pastikan adalah, kamu sudah bekerja di luar kemampuan batas yang biasa kamu lakuka sehari-hari.

Tidak realistis rasanya membandingkan kerja kerasmu dengan orang lain. Karena semua memiliki awalannya masing-masing.

Yang terpenting adalah, kamu bekerja dengan keras hari ini dibanding hari kemarin, begitu pun besok, kamu harus bekerja lebih keras di bandingkan hari ini. Begitu seterusnya hingga menimbulkan efek bola salju. Lama-lama, kamu akan mendapatkan dirimu menjadi seorang pekerja keras yang jauh di atas rata-rata orang di duni.

Disiplin

Selanjutnya adalah disiplin. Ya, disiplin dengan waktu, disiplin dengan komitmen, disiplin dengan jadwal, disiplin dengan janji.

Ini adalah harga yang paling mahal sebenarnya. Tidak banyak orang di dunia ini bisa hidup dengan disiplin.

Apalagi banyaknya distraksi teknologi seperti sosial media, membuat orang semakin gampang bermalas-malasan, menunda-nunda, menghiraukan apa yang harusnya mereka lakukan.

Pada akhirnya, planning hanya sekadar planning, tanpa adanya eksekusi.

Saya pernah mengobrol dengan seseorang, katanya, kita semua adalah perencana yang baik, tapi tidak semuanya adalah seorang eksekutor yang baik, oleh karenanya, eksekutorlah yang bayarannya paling tinggi.

Ya, saya sangat sepakat dengan itu. Kita sudah memiliki yang namanya perencana yang baik. Sangat baik, namun sayangnya kita bukanlah eksekutor yang baik.

Lalu, bagaimana caranya menjadi seorang eksekutor yang baik? Jawabannya satu. Disiplin.

DIsiplin dengan apa yang sudah kamu rencanakan dan langsung eksekusi.

Disiplin dengan perkataan yang sudah kamu katakan dan langsung tepati.

Disiplin dengan waktu yang sudah kamu buat dan langsung jalani.

Disiplin itu mahal, dan kamu harus berdarah-darah dalam menekuninya. Buatlah disiplin itu menjadi bagian dari dirimu, maka lihatlah perubahan yang kamu bawa 5-10 tahun lagi. Kamu tidak akan menyangka akan hasil yang sudah kamu capai.

Konsisten

Konsisten, level selanjutnya yang menurutku ini adalah kunci dari segalanya.

Berguru dari pelajaran Sejarah saya waktu lalu. Ada sebuah peninggalan, sebuah batu, yang katanya magic terbentuk karena adanya tetesan air yang terus-menerus mengikisnya.

Tetesan air, yang sebagaimana kita ketahui tidak ada apa-apanya, dikata tajam pun tidak. Tapi, dengan konsistensi air dalam mengikis batu tersebut selama bertahun-tahun, akhirnya batu sekeras apapun akan terpotong juga, akan bolong juga.

Itulah pentingnya konsistensi.

Konsisten untuk terus mengejar apa yang kamu inginkan, tanpa perlu lagi menengok kanan kiri.

Tidak ada sejarah orang sukses tanpa konsistensi.

Sebesar apapun cita-citamu, jika kamu konsisten belajar, konsisten menjalaninya, maka ia akan kamu gapai.

Presisten

Selanjutnya adalah presisten. Mengutip kalimat yang dilontarkan oleh “Timoty Ronald” seorang pemuda sukses di umur 24 tahun, ia berkata. “Kalian boleh mengatakan saya sombong, gila harta, dan sebagainya, tidak masaah. Tapi satu hal yang tidak saya terima, jika kamu mengatakan bahwa saya seorang quiter”

Ya, katanya, kunci dari ia bisa berhasil di segala hal yang ia mau adalah presisten. Mau segila apa dunia menghukumnya, dia tidak akan pernah menyerah.

Presisten, diartikan sebagai sikap tanpa menyerah meskipun hal yang ingin dicapai tampaknya tidak memungkinkan.

Jika kamu sudah menentukan mau terjun di bidang mana, presisten lah, mau kamu segagal apapun, jangan pernah menyerah. Gagal? Bangkit lagi. Gagal? Bangkit lagi. Gagal? Bangkit lagi.

Sudah terlalu banyak pengorbanan yang kamu lakukan, maka tidak akan kata lain yang mesti diucap, selain, BANGKIT LAGI.

Sampai, apa yang kamu citakan, itu berhasil terwujudkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top