Nyaman Belum Tentu Aman

Baru saja saya mendengar salah satu podcast dari Ryan Dwana yang bertajuk “Hidup Lebih Profesional” dari podcast Bukan Zona Nyaman.

Sebenarnya bukan tentang isi dari podcastnya. Saya malah justru terkesan oleh tagline yang dibawakan.

Dalam konten tersebut Ryan mengatakan dalam sepenggal kata “Karena yang namanya pertumbuhan, itu pasti enggak nyaman dan harus disengaja. Karena kalau nyaman bukan berarti Aman”.

Saya tahu, banyak yang kontra dengan pernyataan “kalau mau sukses harus meninggalkan zona nyaman”.

Saya tahu, bahwa ini adalah pernyataan yang sangat klise dan seringkali terdengar, namun seringkali juga diremehkan.

Bagi yang tidak sepaham, mereka akan mengatakan

“Kalau nyaman, yaa berarti di situlah passion. Justru, ngapain kita harus keluar dari zona nyaman kalau di dalam zona nyaman kita bisa bertumbuh” katanya…

“Bukan kah passion itu adalah sebuah kenyamanan? Bukankah kita bekerja harus merasa nyaman biar kerjaan kita aman?”.

Begitu mungkin pernyataan orang-orang yang tidak suka.

Well, dari saya sebenarnya tidak ada yang salah. Entah orang mau tinggal di zona nyaman atau keluar dari zona nyaman, tidak ada yang salah. Sebab, itu pilihan hidup.

Tapi, kalau boleh condong. Saya lebih memilih narasi “Kalau mau bertumbuh maka harga yang harus dibayar adalah ketidaknyamanan”.

Mengapa saya berkata demikian?

Begitu banyak sebenarnya pembelajaran di “alam” yang saya temui.

Yang menggurukan bahwa, kalau mau tumbuh dan berkembang itu harus melalui metamorfosis ketidaknyamanan.

Sangat banyak.

Contoh kecil saja, ketika kita melihat metamorfosis kupu-kupu.

Awalnya, dia adalah seekor ulat yang berjalan di pohon-pohon, lalu dia menjadi sebuah kepompong, dan jadilah kupu-kupu yang indah.

Namun, sebelum menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah, ada fase berat yang harus kupu-kupu itu jalani.

Prosesnya dari telur, menjadi ulat. Dari ulat, menjadi kepompong. Dan, dari kepompong, menjadi kupu-kupu.

Mari kita ceritakan sedikit, sebagai gambaran.

Proses pembentukan kupu-kupu dimulai dari telur yang diletakkan di daun. Setelah menetas, larva (ulat) keluar dan mulai makan.

Ulat tumbuh dengan cepat, mengganti kulitnya beberapa kali. Pada tahap ini, mereka mungkin merasa tidak nyaman karena pertumbuhan yang cepat dan kebutuhan untuk mencari makanan.

Setelah cukup besar, ulat mencari tempat yang aman untuk membentuk kepompong. Di dalam kepompong, ulat mengalami perubahan besar. Perubahan yang cukup berat dan tidak mengenakkan.

Ulat itu akan melakukan penghentian makan. Artinya, dia tidak makan selama prosessnya sebagai kepompong. Yang tentunya, memberikan efek ketidaknyamanan karena kekurangan nutrisi.

Lalu, sel-sel di dalam kepompong mulai terurai dan membentuk struktur baru. Ini adalah proses yang menyakitkan dan melelahkan.

Dalam proses itu, dia juga pasti merasa keterasingan. kepompong mengisolasi diri dari dunia luar, yang bisa menyebabkan stres dan ketidaknyamanan psikologis.

Setelah beberapa waktu, kupu-kupu yang sepenuhnya terbentuk akan keluar dari kepompong. Proses ini juga bisa sulit

Keluarnya dari kepompong, kupu-kupu harus berjuang untuk keluar dari kepompong yang merupakan tantangan fisik yang melelahkan.

Lalu, setelah keluar, sayap kupu-kupu tersebut juga harus mengering dan mengembang. Dan, inilah fase yang rentang, di mana kupu-kupu harus berhati-hati agar tidak terluka.

Barulah setelah melewati fase yang melelahkan itu. Seekor ulat bisa berubah menjadi kupu-kupu yang indah nan cantik.

See? Masih banyak sebenarnya pembelajaran dari alam, seperti Elang yang mengasingkan diri di ketinggian dan harus mematok paruhnya sampai patah, mencabut bulunya yang panjang, mencabut kukunya, untuk kemudian bisa bertahan hidup lebih dari 30 tahun berikutnya.

Ya, banyak sekali sebenarnya pembelajaran yang telah Tuhan perlihatkan kepada kita. Bagi jiwa-jiwa yang senantiasa berpikir.

Bahwa benar, proses pertumbuhan itu haruslah melewati fase yang menyakitkan, tidak enak, melelahkan, penuh tangis, darah. Dan, itulah harga yang harus dibayar untuk menuju yang namanya keberhasilan dan kebahagiaan.

Jadi, teruntuk kita, yang sedang dalam proses itu, bersabarlah.

Jangan pernah menyerah untuk mengejar mimpi yang telah kamu patrikan dalam hati.

Memang berat. mungkin penuh stres, bahkan mungkin sampai depresi, mungkin mengganggu tidur nyenyakmu, mungkin mengganggu pikiranmu, mungkin mengganggu kenyamanan makanmu, mungkin mengganggu waktu mudamu.

Tapi percayalah, selama prosesnya benar, maka proses tersebut tidak akan menghianati hasil.

Bahwa apa yang kita perjuangkan saat ini, akan berbuah manis diujung nanti. sangat, sangat, sangat manis.

Ya, pada akhirnya, jika kita ingin menjadi orang yang aman, bukan berarti kita harus terus berada dalam situasi yang nyaman. keluarlah dari zona nyaman, karena nyaman belum tentu aman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top