Menggali sifat manusia
Manusia. Itulah sebutan bagi ciptaanNya yang paling sempurna. Memiliki derajat tertinggi diantara makhluk katanya, tapi sekaligus menjelma menjadi ciptaanNya yang terhina. Memang secara penciptaan manusia itu unik. Manusia itu memiliki potensi akal dan nafsu yang sangat bisa memporak-porandakan sesuatu. Diberikan pilihan untuk menentukan derajatnya sendiri, terserah mau jadi terhina atau terpuja.
Beruntungnya manusia itu makhluk yang paling disayang sang pencipta. Hanya mengucap ampunan saja sudah termaaf, meskipun beribu salah sudah terbuat. Sayangnya manusia jua makhluk tak tau diri, saking kenyangnya menjadi makhluk manja malah menjadi tak sadar dan hilang arah.
Menggali sifat dasar manusia itu gampang saja, hanya diberikan 2 keadaan saja yaitu bahagia dan sengsara. Maka ketahuanlah wajah dibalik topengnya.
Manusia makhluk sosial katanya. tapi ketika diberi kuasa serta tahta maka menjelma menjadi makhluk serakah, manusia punya sabar katanya. tapi ketika dilanda sebuah sengsara malah menjelma menjadi makhluk penjarah. Mementingkan ego sendiri, mementingkan perut sendiri, mementingkan hidup sendiri hingga akhirnya naluri hilang arti. Dasar makhluk tak tau diri !!
Entah ini scenario sang pencipta atau kesesatan sang manusia. Entah, ini efek dari sebuah kebebasan manusia dengan pilihan yang diberikan? yang jelas setahu saya, panduan yang diberikan Tuhan tak sepadan dengan apa yang manusia jalankan hingga seakan dirinya menjadi tuan tak bertuhan dalam kehidupan.
Mengapa mengatakan demikian? Entah ini delusi dari sang penulis yang melihat keadaan, atau memang kenyataan yang seakan menyakitkan untuk dikatakan. Tapi lihatlah orang yang diberikan bahagia, apakah ia menengok sesamanya yang sedang sengsara? Lalu lihat pula orang yang diberi sengsara, apakah ia akan tetap sabar dan baik-baik saja atau malah menjadi seorang penjarah yang seakan tak punya pengarah?
Tapi tenang, manusia tak seburuk itu juga, masih ada yang berpegang teguh dari sisi lain. Ibaratkan 2 sisi mata koin, ada yang baik dan ada juga yang buruk. Karena sejatinya hidup ini semuanya memiliki asas keseimbangan, ada yang mati ada yang hidup, ada yang tua ada yang muda, ada yang baik dan ada yang buruk. Lalu bagaimana dengan yang baik? Bagaimana menempuhnya?
Kehidupan itu seperti roda dan ban sepeda. Bumi yang berbentuk bulat bagaikan sebuah ban sepeda yang bermakna bahwa penghuninya bisa saja berada diatas dan bisa saja berada dibawah, dan waktu itu bagaikan rodal yang membuat ban bisa berputar. Jadi, kita akan bergantung pada waktu, waktu yang mampu memporak-porandakan hidup manusia. Yang tadinya merasa bahagia bisa jadi sengsara dan yang tadinya merasa sengsara bisa jadi bahagia. Maka bersyukur adalah sebuah kunci, bersabar adalah sebuah prinsip dan ikthiar adalah sebuah konsep.
Itulah pentingnya bercengkrama di hadapanNya, mengingat bahwa diri memiliki batas, maka Dia hadir tanpa batas untuk sekedar menebas cemas dalam realitas. Jangan terlalu sibuk, jangan terlalu stress, jangan terlalu membebani dalam memikirkan kehidupan yang tak seberapa sehingga lupa bahwa masih ada tempat sunyi dan sepi yang didalamnya mengalirkan mata air dan membawamu dalam hidup yang lebih jernih. Yang menghapus segala noda, sehingga fitah yang telah lama tertimbun oleh debu debu yang mengerak dalam hati terbawa oleh air sehingga menjernihkan kembali, mengingatkan kembali bahwa diri kita memiliki hati, yang sudah lama merintih tak terdengar.
Itulah Tuhan, tempat kita tercipta dari yang semula tiada, Intriktur bagi kita yang masih belajar hidup, kompas dari kita yang sempat hilang arah, konsultan bagi kita yang senantiasa memiliki harap, dan rumah bagi kita yang sudah selesai mengerjakan tugas hidup.