Fenomena yang seringkali menjadi perdebatan adalah haruskah kita memilah-milih pekerjaan?
Yah, saya rasa ini akan menjadi perdebatan sepanjang masa jika kita tidak mau memahami sudut pandang masing-masing pendapat.
Jika kamu menanyakan hal yang sama kepada saya, maka untuk saat ini, di posisi yang masih belum ada tanggungan dan penuh dengan kebebasan, maka pendapatku, HARUS!
Namun, saya tidak pernah menyangkal bahwa di posisi lain, ada jawaban yang mengatakan mereka tidak harus mem-filter pekerjaan alias yang penting kerja.
Bagi golongan orang yang sudah memiliki tanggungan lahir batin, idealisme memilih pekerjaan tidak harus dipaksakan lagi.
Yang terpenting, bagi mereka, adalah memiliki sebuah pekerjaan yang bisa menghidupi dan membuat dapur tetap berjalan.
Itu pendapat mereka, yang kini jika tetap idealis maka akan mati karena realita.
Bagi mereka yang masih belum punya tanggungan, rasanya sah-sah saja untuk masih melakukan banyak eksplorasi untuk mendapatkan jati dirinya.
Ya, meskipun pada dasarnya tidak ada jati diri yang begitu sempurna.
Lalu, apakah orang yang berhasil memiliki pekerjaan dambaannya akan seberuntung dan sebahagia itu?
Jawabannya belum tentu. Dan, mungkin saya rasa tidak ada pekerjaan yang bisa begitu membanggakan.
Saya rasa, semua pekerjaan memiliki sisi miringnya masing-masing.
Ada orang yang terlihat bekerja begitu happy karena bisa mengerjakan pekerjaan di rumah, tapi kita tidak pernah tahu seberapa sulit dan vital tanggung jawab yang mereka emban.
Ada orang yang terlihat bekerja begitu penat bahkan sangat berisiko dengan nyawa, tapi kita tidak pernah tahu seberapa banyak keuntungan yang mereka dapatkan dari segi pendapatan.
Ada orang yang pekerjaannya terlihat tidak begitu menjanjikan, tapi kita tidak pernah tahu, mungkin saja dengan begitu perasaan mereka begitu tenang.
Banyak hal yang tidak bisa kita simpulkan jika hanya memakai kacamata kuda saja.
Intinya, tidak ada pekerjaan yang sempurna di dunia yang tidak sempurna ini.
Mau jadi pengusaha pun yang katanya “terbebas” dari belenggu aturan, katanya enak? Siapa bilang?
Mereka, para pengusaha harus berpikir tanpa henti memberikan inovasi kepada usahanya agar tetap sustain di tengah kondisi dunia yang sedang tidak baik-baik saja.
Lengah sedikit? Gulung tikarlah mereka, habis lah sudah.
Ingin jadi investor yang katanya bisa menghasilkan passive income? Ah, kata siapa mereka terus untung? Di balik “terlihat” nyamannya mereka, ada risiko yang selalu mengintai yang bisa membuat modalnya ludes tanpa sisa.
Lalu, apa yang perlu kita perdebatkan? Perdebatan hanya terjadi tanpa henti jika kita masih saja memandang dengan kacamata kuda.
Coba untuk memahami dari sudut pandang yang lain, coba menyelami kondisi yang lain dengan bijak.
Tapi di sini, saya ingin coba menekankan, ada hal yang harus kita filter dalam pencarian kerja.
Carilah pekerjaan yang sekiranya tidak mengganggu ketentraman orang lain. Carilah pekerjaan yang tidak bertentangan dengan norma sosial dan norma agama.
Jangan hanya karena ingin dapur tetap ngebul, kita memilih pekerjaan yang merugikan orang lain.
Tidak masalah pekerjaan dengan penghasilan sedikit tapi tetap halal daripada pekerjaan dengan penghasilan tinggi namun haram di mata Tuhan.
Yang terpenting, kita selalu bersyukur atas kondisi yang sudah ada. Kita selalu berusaha untuk melakukan sesuatu dengan baik. Dan, kita selalu melakukan perbaikan-perbaikan atas apa yang telah kita lalui.
Sekian, terima kasih.