Jangan Beralasan

Manusia sangat dikenal sebagai makhluk yang sangat pandai beralasan, demi menghindari diri untuk melakukan hal hal yang menjadi tanggung jawab yang harus dikerjkan. Ada 2 kalimat yang menjadi senjata yang paling ampuh manusia untuk menghindari hal hal yang seharusnya dilakukan, yang pertama adalah kata SIBUK, dan yang kedua adalah rasa GABUT.

Kita sering sekali mendengar alasan klasik tersebut, misalkan saja ketika kita disuruh untuk mengerjakan tugas atau PR dirumah, lalu kita tidak mengerjakannya dengan dalih bahwa kita sangat sibuk dirumah membantu orang tua, sibuk dengan pelajaran yang lain, atau apalah itu yang menjadikan diri kita seakan tidak ada waktu dan hanya menyalahkan situasi dan kondisi.

Padahal jika kita ingin menyempatkan waktu senggang kita untuk mengerjakan tugas-tugas itu, maka pastilah bisa diselesaikan, kata sibuk hanya menjadi sebuah alasan yang membuat kita menjadi kurang produktif.

Sama halnya dengan kata GABUT. Sering kali di social media kita melihat orang-orang yang menulis status dan mengatakan “Aku lagi Gabut nih” dan semacamnya. Sebenarnya orang orang itu hanyalah malas, tidak ada manusia yang terlahir tak memiliki pekerjaan apa apa,  tugas yang paling utama manusia adalah ibadah untuk urusan akhirat dan bekerja untuk urusan duniawi, sehingga tidak ada alasan lain kita dalam sedetikpun untuk tidak melakukan aktivitas apapun, hanya karena diri kitalah yang malas, dan kata malas itu yang sering disalah artikan menjadi gabut sehingga lagi lagi kita menyalahkan situasi dan kondisi. Ketika kita mengucapkan kata gabut, maka percayalah waktu sedetik yang kamu habiskan itu akan berbuah penyesalan diakhir nanti. Ada pepatah sering mengatakan bahwa ’ 5 detik yang kau gunakan saat ini, akan menentukan kehidupanmu 5 tahun yang akan datang”, dan jika 5 detik kita buang dengan percuma saat ini, maka percayalah 5 tahun kedepan waktu yang kita buang itu akan sangat kita rindukan, dan disitulah letak penyesalan itu akan datang.

Andai kata alasan itu tidak tercipta, atau tidak dikenal oleh manusia manusia, sudah pastilah kehidupan di dunia ini akan sangat makmur, karena setiap detiknya di isi oleh sesuatu yang bermanfaat. Tidak seperti sekarang ini yang dalam seharinya sekitaran 80% dipergunakan hanya untuk hal yang sia-sia saja, seperti bermain game, menonton acara TV yang tidak jelas,atau bahkan hanya tiduran dan melamun saja.

Manusia hanya suka bermimpi dan bermimpi, tanpa ada hasrat untuk mewujudkan mimpi, padahal manusia memiliki kemampuan otak yang sungguh luar biasa yang telah dikaruniakan padanya, namun karena keputusan manusia sendirilah yang memilih untuk banyak alasan dan menunda nunda impiannya  untuk diwujudkan, lalu pada akhirnya impiannya itu tidak terwujud maka hal yang paling pertama akan disalahkan adalah situasi dan kondisi. Dan memang manusia itu tak pernah sadar diri untuk menyalahkan diriya sendiri kenapa tidak memanfaatkan kekuatan besar yang ada dalam dirinya.

Berhenti beralasan dan bersegera dalam mengambil tindakan dan keputusan adalah hal yang tepat bagi manusia produktif yang benar benar menginginkan hidup yang bahagia. Mengapa manusia ingin memilih sesuatu hal yang sia sia padahal ia memiliki hal yang besar untuk diwujudkan? Sungguh sangat sangat aneh. Jika diri kita sedang dalam kondisi tidak ada kegiatan, pikirlah,,, putar kembali otak kita tentang impian kita, apakah impian kita sudah tercapai sehingga kita sudah bisa terlena dan berleha leha? Jikalau belum tercapai, maka tunggu apa lagi? Apakah kita masih mau beralasan lagi untuk mengatakan bahwa saya sudah tidak punya aktivitas, padahal sejuta mimpi di angan angannya belum ada satupun yang ia capai.

Ayo lakukan sekarang juga, berhenti lah beralasan dan menyalahkan waktu, andaikata waktu bisa berbicara maka sedari dulu lah waktu itu akan menuntut kita ke pengadilan karena sudah berkali kali kita selalu terus menerus menyalahkannya, memfitnah dia sebagai penyebab kegagalan kita.

Maka kesimpulan dari pembahasan ini. “Berhenti beralasan dan bergegas mengambil tindakan, kejarlah impian yang sudah lama di idamkan, jangan biarkan ia menjauh lagi karena dirimu yang seakan tak peduli”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top