Seorang manusia dalam hidupnya tak terlepas dari nikmat yang diberikan oleh-Nya, namun pada tiap tiap nikmat itu tentu ada juga yang harus dibayarkan sebagai ungkapan rasa syukur dan terimakasih kepada Allah swt.
Layaknya dalam kehidupan sehari-hari, ketika kita sedang dilanda kemalangan dan sangat butuh pertolongan dari teman, lalu kemudian ada seorang teman yang dengan ikhlas membantu kita keluar dari lobang masalah, pastilah kita akan berat hati jika kemudian kita tidak memberikan balasan yang setimpal atas kebaikannya. Ada perasaan tidak enak dalam batin kita jika seorang teman telah menolong kita lalu kita membiarkannya pergi begitu saja selepas masalah itu selesai dan tentu diri kita akan terdorong untuk melakukan balas jasa, entah dalam bentuk apa, kapan, dan bagaimana.
Ketika kita memiliki rasa berat hati kepada sesosok makhluk yang sesekali menolong kita. Lalu bagaimana dengan sang pencipta yang telah memberikan kita nikmat hidup, nikmat pertolongan yang setiap detiknya kita rasakan yang selalu mengalir begitu saja dan tak terhitung jumlahnya. Adakah rasa tidak enak dalam hati yang membuat diri ini terdorong untuk mengucap rasa terimakasih?.
Sungguh betul-betul diri ini adalah ciptaan yang tak tau rasa terimakasih dan selalu menganggap sepele hal-hal yang harusnya sungguh besar, sehingga mata hati kita tertutup oleh rasa malu kita terhadap kebaikan nikmat yang diberikan Allah swt kepada diri kita.
Jika kita telah sadar dan ingin bersyukur, tentu ungkapan rasa syukur tak cukup hanya dilisan dan untuk membayar apa yang telah diberikan oleh Allah swt kepada diri kita, akan tetapi kita memiliki kewajiban untuk mensyukurinya dengan tindakan. Lalu dengan cara apa kita mensyukuri nikmat itu dalam tindakan?
Sebenarnya ada zakat yang harus dibayarkan dalam tubuh kita sebagai ungkapan rasa syukur dan terimakasih atas pemberian sang pencipta, manusia yang diberikan pinjaman berupa tangan untuk berpegang, mata untuk melihat, kaki untuk berjalan, hati untuk merasakan dan semua hal lain yang berupa modal bagi manusia untuk bertahan hidup. Pinjaman itulah yang harus kita rawat dengan baik sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan.
Dalam sebuah buku “Risalah Minhaj al-Arifin” telah disebutkan bahwa
Pada tiap bagian tubuhmu ada zakat yang wajib ditunaikan karena Allah swt.
Zakat hati adalah dengan merenungkan keagungan, kebijaksanan, kekuasaan, nikmat dan rahmat Allah.
Zakat mata adalah dengan mengambil pelajaran dari apa yang dilihat dan berpaling dari syahwat.
Zakat telinga adalah mendengarkan nasihat-nasihat yang bisa mendatangkan keselamatan untukmu.
Zakat lisan adalah dengan mengucapkan kata-kata yang akan mendekatkanmu kepada-Nya.
Zakat tangan adalah menahan diri dari keburukan dan melakukan kebaikan.
Zakat kaki adalah dengan melangkah ke tempat yang membuat hatimu baik dan agamamu selamat.
Dan hal inilah yang harus selalu kita ingat dan tanamkan dalam-dalam pada diri. Dalam keseharian pun, ketika kita meminjamkan sesuatu kepada teman, lalu teman mempergunakannya dengan tidak baik dan mengembalikannya tak sesuai dengan bentuk semula, maka pastinya diri kita akan marah kepadanya dan tak lagi ingin memberikan kepercayaan pada dirinya. Maka hal itu jugalah yang harus kita praktikkan kepada sang pencipta. Malah justru tingkat rasa hati hati kita dalam menggunakan pinjaman dari Allah harus melebihi rasa hati-hati kita dari pinjaman manusia.
Akan tetapi ketika melihat fenomena kehidupan sekarang, sudah sangat jarang dan bahkan manusia-manusia sudah tak peduli lagi akan hal ini, menggunakan pinjaman dari Allah swt untuk melakukan hal-hal yang dibenci-Nya, lalu seakan manusia tak memiliki rasa takut padahal ia tahu bahwa yang memberikan adalah sang pencipta.
Janganlah kita termasuk dari golongan orang-orang yang kurang bersyukur, kita yang diberikan modal pinjaman yang tak bisa disandingkan dengan nilai materil apapun sudah sepatutnya menjaga dan mempergunakannya sesuai dengan prosedur yang telah diberikan dalam Al-Quran.
Pergunakanlah segala pemberian dari Allah untuk kita mencari lading pahala sebagai bekal untuk perjalanan kita menuju akhirat nanti, jangan menjadi manusia bodoh yang nantinya akan menangis dalam penyesalan. Pergunakanlah untuk memakmurkan diri, memakmurkan sesama, dan memakmurkan bangsa sehingga kedepannya bukan penyesalan yang timbul melainkan balasan yang sangat indah di sisi-Nya.
Wassalam. —